Salah seorang nelayan mengungkapkan, biasanya ia bisa memperoleh sekitar 150 liter solar per hari untuk mengoperasikan kapal dompeng bermesin 24 PK. Namun, dalam beberapa hari terakhir, jumlah tersebut berkurang menjadi hanya 120 liter.
Bahkan, nelayan terkadang tidak kebagian solar karena stok di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) telah habis.
“Makin susah kami dapat BBM solar. Padahal dokumen ada. Tapi kuota dikurangi. Alasannya biar adil. Masalahnya kapal besar itu dapat banyak. Kami yang kapal kecil justru dipangkas,” keluhnya, Selasa (28/10/2026).
Pengurangan pasokan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas melaut. Dengan bahan bakar yang lebih sedikit, nelayan harus menyesuaikan rute dan radius tangkapan agar tidak kehabisan solar saat berada di laut.
Keluhan nelayan tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya stok solar, tetapi juga pembagian kuota untuk masing-masing kapal.
Nelayan berharap distribusi BBM subsidi dapat mempertimbangkan kebutuhan operasional kapal, termasuk kapasitas mesin dan karakteristik aktivitas penangkapan ikan.
Menurut mereka, pengurangan jatah solar berpotensi membuat kapal kecil semakin kesulitan bersaing dalam memperoleh hasil tangkapan, terutama ketika harus membatasi jarak pelayaran.
Sementara itu, Pengelola SPBN Tanjung Limau, Ekawati, membenarkan bahwa penyaluran solar subsidi kepada nelayan disesuaikan dengan kuota yang tersedia.
Menurutnya, meningkatnya jumlah nelayan yang membutuhkan solar membuat operator harus menyesuaikan penyaluran dengan surat rekomendasi masing-masing kapal.
“Nelayan meningkat terus. Jadi kami sebagai operator menyesuaikan dari surat rekomendasi,” jelasnya.
Ekawati menyebut, keterbatasan pasokan menjadi salah satu kendala dalam memenuhi kebutuhan seluruh nelayan. Menjelang akhir tahun, setiap kali pasokan datang, jumlah solar subsidi yang diterima SPBN Bontang sekitar 8.000 liter.
Dengan asumsi alokasi 100 liter untuk setiap kapal, pasokan tersebut hanya dapat disalurkan kepada sekitar 80 nelayan dalam satu kali distribusi.
Untuk mengantisipasi tingginya kebutuhan, pihak SPBN berencana mengajukan penambahan kuota solar subsidi kepada Pertamina.
“Kita sesuaikan kuota yang dikirim saja. Kami minta tambahan kuota juga,” pungkasnya.
Terbatasnya pasokan solar subsidi ini menjadi perhatian bagi nelayan Bontang. Mereka berharap ada evaluasi distribusi dan penambahan kuota agar aktivitas melaut tidak terus terganggu, terutama bagi nelayan kapal kecil yang bergantung pada BBM subsidi untuk mencari nafkah.
