Informasi yang sempat viral di media sosial itu membuat warga heboh pada Rabu (28/10/2026). Menindaklanjuti kabar tersebut, Satreskrim Polres Bontang langsung melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Kapolres Bontang AKBP Anak Agung Gede Wibowo melalui Kasat Reskrim AKP Putu Ari Sanjaya mengatakan, polisi mendatangi kediaman pasutri di Kelurahan Loktuan untuk meminta klarifikasi mengenai kabar adanya bayi yang disebut meninggal dunia dan telah dimakamkan.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan bahwa cerita mengenai kehamilan, persalinan, hingga jasad bayi yang dikabarkan dimakamkan tersebut tidak benar.
“Pasutri mengaku hamil, tetapi faktanya tidak ada kehamilan. Jadi, jasad yang dimakamkan kemarin itu mereka buat-buat,” ungkap AKP Putu Ari.
Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, penyidik Satreskrim Polres Bontang juga melakukan konfirmasi kepada pihak rumah sakit yang disebut dalam kabar viral tersebut.
Berdasarkan catatan medis yang diperiksa polisi, sang istri tercatat hanya satu kali datang untuk berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter pada Senin (26/10/2026).
Kunjungan itu dilakukan karena yang bersangkutan mengeluhkan siklus menstruasi yang kerap terlambat. Namun, berdasarkan keterangan polisi, tidak ditemukan catatan persalinan sebagaimana cerita yang sebelumnya beredar.
“Ke RS hanya periksa dan bertanya karena sering telat haid. Tapi kalau bersalin tidak ada,” tutur Putu Ari.
Hasil konfirmasi tersebut menjadi salah satu dasar bagi polisi untuk menelusuri kebenaran informasi yang ramai diperbincangkan masyarakat.
Dalam pemeriksaan, pasutri tersebut mengaku sengaja merekayasa cerita karena merasa takut menjadi bahan pembicaraan orang lain lantaran belum memiliki anak.
Tekanan sosial dan harapan orang tua yang telah lama menantikan kehadiran cucu disebut menjadi latar belakang tindakan mereka.
Meski demikian, alasan tersebut merupakan keterangan yang disampaikan pasutri kepada polisi dan tidak membenarkan penyebaran informasi palsu yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.
Sebelumnya, kabar mengenai dugaan jasad bayi yang disebut ditukar dengan bantal di salah satu rumah sakit di Bontang ramai beredar di media sosial. Informasi itu mencuat setelah diunggah oleh sebuah akun Facebook dan dikaitkan dengan warga Kelurahan Loktuan.
Polisi kemudian melakukan penelusuran untuk memastikan fakta di balik kabar tersebut. Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa cerita mengenai kehamilan dan kematian bayi itu merupakan rekayasa.
Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar sensitif yang berpotensi memicu keresahan publik.
