Pemkot Bontang Genjot Tenaga Kerja Lokal, 323 Peserta Ikuti Pelatihan Kompetensi

Redaksi Wy
4 Min Read
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), terus mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja lokal melalui program pelatihan berbasis kompetensi. Sepanjang 2026, program tersebut diikuti 323 peserta dengan beragam bidang keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri maupun peluang usaha mandiri.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengingatkan peserta agar tidak hanya berorientasi pada sertifikat setelah mengikuti pelatihan. Menurutnya, kemampuan teknis dan kedisiplinan menjadi faktor penting untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan.

 

“Jangan berpikir setelah mendapatkan sertifikat kemudian pasti diterima bekerja. Yang paling penting adalah kemampuan dan kedisiplinan,” kata Agus Haris di Bontang, Selasa.

 

Ia menjelaskan, penguasaan keterampilan menjadi bekal penting bagi masyarakat untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif. Karena itu, peserta diharapkan benar-benar menguasai materi pelatihan dan mampu menerapkannya sesuai kebutuhan perusahaan.

 

Pemkot Bontang juga mendorong penyerapan tenaga kerja lokal dengan komposisi 75 persen. Kebijakan tersebut diharapkan memperbesar peluang masyarakat setempat untuk bekerja di berbagai sektor industri yang beroperasi di Kota Bontang.

Baca Juga:  2 Remaja Perusak Pot Bunga di Jalan Ahmad Yani Bontang Diamankan, Diduga dalam Pengaruh Alkohol

 

Menurut Agus, peningkatan kompetensi harus dipersiapkan sejak dini agar tenaga kerja lokal memiliki kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bontang, Asdar Ibrahim, mengatakan program pelatihan pada 2026 mencakup 12 jenis kompetensi. Seluruh kegiatan tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bontang.

 

Pelatihan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri meliputi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Umum, Welder GTAW 6G, Operator Scaffolding, Operator Forklift, Junior Office Operator, serta mengemudi kendaraan roda empat.

 

Kompetensi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk melamar pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus, baik di sektor industri maupun bidang pendukung operasional perusahaan.

 

Selain pelatihan berbasis industri, Disnaker Bontang juga menyediakan program yang berorientasi pada pengembangan usaha masyarakat. Bidangnya mencakup menjahit dasar, pengolahan hasil laut, perawatan rambut, tata rias atau make up, pengolahan bahan daur ulang kain perca, serta massage bagi penyandang disabilitas.

 

Asdar menjelaskan, pelatihan berbasis industri dirancang untuk membantu peserta memenuhi kebutuhan dan kualifikasi perusahaan. Sementara itu, pelatihan nonindustri diharapkan membuka peluang usaha baru dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Kecamatan Bontang Barat Rutin Patroli Wajib Belajar Malam, Tekan Kenakalan Anak

 

Peserta pelatihan juga diarahkan memperoleh sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai pengakuan atas keterampilan yang dikuasai.

 

Sertifikasi tersebut dapat menjadi nilai tambah ketika peserta melamar pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi tertentu. Namun, peluang diterima bekerja tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan, kualifikasi jabatan, kemampuan peserta, dan proses seleksi yang berlaku.

 

Disnaker Bontang juga menyoroti peluang kebutuhan tenaga kerja seiring rencana pengoperasian kembali dua train PT Badak NGL yang diproyeksikan mulai 2028.

 

Menurut Asdar, rencana tersebut menjadi salah satu peluang yang dapat dipersiapkan masyarakat Bontang sejak sekarang melalui peningkatan keterampilan dan pemenuhan persyaratan kerja.

 

Dengan program pelatihan berbasis kompetensi, Pemkot Bontang berharap semakin banyak tenaga kerja lokal yang mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan industri. Meski demikian, peserta tetap perlu meningkatkan kemampuan secara berkelanjutan agar dapat memanfaatkan peluang kerja yang tersedia.

Share This Article