BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, melontarkan pernyataan tegas kepada seluruh jajaran pejabat, mulai dari lurah hingga kepala dinas, terkait penanganan persoalan sampah di wilayahnya. Ia menantang pejabat yang tidak mampu mengelola persoalan tersebut untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Otonomi Daerah yang digelar di Halaman Kantor DPM-PTSP, Senin (27/4/2026).
Menurut Neni, setiap pejabat memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung program kebersihan lingkungan, termasuk memastikan wilayahnya bebas dari persoalan sampah. Ia menegaskan, peran aktif dalam sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi kewajiban yang tidak bisa diabaikan.
Ia menambahkan, para pejabat tidak perlu menunggu arahan langsung dari dirinya maupun Wakil Wali Kota Agus Haris dalam menangani persoalan sampah, khususnya di kawasan pesisir. Kolaborasi lintas dinas dinilai menjadi kunci untuk mengurai masalah yang selama ini terus berulang.
Tak hanya pejabat pemerintahan, Neni juga menekankan peran Ketua RT dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan insentif yang kini mencapai Rp2 juta, ia berharap para RT lebih aktif dan serius dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Kalau tidak mampu, mundur saja. Sampah ini tanggung jawab bersama. Lurah dan kepala dinas harus aktif melakukan sosialisasi, jangan menunggu saya turun langsung,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk turut berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah.
Sebagai langkah konkret, kelurahan diminta menyiapkan sistem pengangkutan sampah yang lebih efektif, agar tidak terjadi penumpukan di tingkat rumah tangga. Salah satu upaya yang didorong adalah pelibatan bank sampah dalam pengelolaan limbah.
Selain itu, pemerintah juga berencana memberdayakan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk mendukung proses pengangkutan sampah hingga ke tempat pembuangan akhir.
Neni juga menyinggung pemasangan jaring penahan sampah di kawasan pesisir yang dinilai hanya sebagai solusi sementara. Ia mencontohkan jaring yang baru dipasang di depan Pasar Tamrin sudah mulai mengalami kerusakan akibat tidak mampu menahan volume sampah yang tinggi.
“Pemasangan jaring hanya penanganan sementara. Yang paling penting adalah mengubah perilaku masyarakat, meskipun itu bukan hal mudah,” pungkasnya.
