RADARKALTIM-Kebiasaan anak mengorek hidung kemudian memakan ingus mungkin membuat sebagian orangtua merasa khawatir. Namun, perilaku yang dikenal sebagai mukofagi tersebut sebenarnya cukup umum dan tidak selalu menjadi tanda adanya gangguan kesehatan.
Kebiasaan mengorek hidung dapat dilakukan oleh anak karena berbagai alasan. Mulai dari rasa penasaran, hidung yang terasa gatal atau tidak nyaman, hingga sekadar kebiasaan yang dilakukan secara otomatis. Setelah berhasil mengeluarkan ingus, rasa ingin tahu anak dapat membuat mereka mencoba memasukkan lendir tersebut ke dalam mulut.
Ahli biologi evolusi Anne Claire Fabre mengatakan, perilaku serupa juga ditemukan pada sejumlah spesies primata. Ingus sendiri sebagian besar terdiri dari air, sementara sebagian lainnya mengandung protein, karbohidrat, dan garam. Meski demikian, belum ada bukti kuat bahwa manusia memperoleh manfaat kesehatan tertentu dari memakan ingus.
Pada anak-anak, perilaku tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan proses mereka dalam mengeksplorasi lingkungan dan tubuhnya sendiri. Ketika hidung terasa tidak nyaman akibat adanya lendir, anak secara alami dapat mengorek hidung untuk menghilangkannya.
Apakah Makan Ingus Bisa Membuat Anak Sakit?
Sesekali memakan ingus umumnya tidak langsung membuat anak sakit. Tubuh manusia secara alami memproduksi lendir hidung yang berfungsi menangkap debu, serbuk sari, partikel, hingga berbagai mikroorganisme yang masuk melalui hidung.
Sebagian lendir tersebut kemudian mengalir ke tenggorokan dan tertelan tanpa disadari. Setelah masuk ke saluran pencernaan, lendir akan melewati lambung yang memiliki lingkungan sangat asam dan menjadi salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai mikroorganisme.
Meski demikian, bukan berarti kebiasaan makan ingus perlu dibiarkan. Ingus bukan sumber makanan yang bergizi. Selain itu, tangan yang digunakan untuk mengorek hidung dapat membawa kuman, terutama jika anak belum mencuci tangan.
Kapan Orangtua Perlu Khawatir?
Orangtua tidak perlu langsung panik ketika melihat anak sesekali mengorek hidung dan memakan ingus. Sebaiknya, orangtua mengarahkan anak dengan cara yang lembut tanpa memarahi atau membuatnya merasa malu.
Anak dapat diajarkan menggunakan tisu ketika membersihkan hidung dan mencuci tangan setelahnya. Orangtua juga dapat menjelaskan bahwa memasukkan tangan ke hidung bukan kebiasaan yang baik karena tangan dapat membawa kotoran dan kuman.
Namun, perhatian lebih diperlukan apabila anak mengorek hidung secara terus-menerus hingga menyebabkan luka atau mimisan. Jika kebiasaan tersebut sangat sulit dikendalikan atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orangtua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, anak makan ingus sesekali umumnya bukan alasan untuk terlalu khawatir. Yang terpenting adalah membantu anak memahami kebersihan hidung dan tangan serta secara bertahap mengganti kebiasaan tersebut dengan perilaku yang lebih sehat.
