Radari Kaltim – Hujan lebat yang mengguyur Kota Samarinda, Kalimantan Timur, sejak 12 Mei 2025 memicu bencana alam. Mulai dari banjir, longsor, dan jalan ambles. Pemerintah Kota Samarinda menetapkan status darurat bencana agar penanganan optimal.
Hujan lebat juga memicu tanah longsor yang merenggut korban jiwa. Data sementara mencatat, empat orang dalam satu keluarga tewas tertimbun longsor. Seorang balita hanyut dan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Selain itu, satu warga tersetrum akibat kabel listrik yang terendam air. Akses jalan HAM Rifaddin di kawasan Kecamatan Loa Janan Ilir pun putus total imbas banjir.
Situasi ini memaksa Pemkot Samarinda mengambil langkah cepat. Wali Kota Andi Harun menerbitkan Surat Pernyataan Penetapan Status Darurat Bencana Banjir, Cuaca Ekstrem, dan Tanah Longsor dengan Nomor 360.2/0960/300.06, berlaku sejak 12 Mei hingga 25 Mei 2025.
“Ini kondisi luar biasa. Korban sudah berjatuhan, dan infrastruktur kita ikut terdampak parah. Kita perlu penanganan lintas sektor dan dukungan kuat dari provinsi,” ujar Andi Harun saat meninjau lokasi terdampak, Minggu (18/5).
Hujan lokal bukanlah satu-satunya faktor pemicu bencana. Tapi juga karena limpasan air dari wilayah hulu dan sekitarnya.
Volume air besar dari luar kota, misalnya dari Kutai Kartanegara akibat pengupasan lahan untuk area tambang memperparah kondisi sungai yang sudah kewalahan menampung debit air.
Pemerintah Kota Samarinda telah melakukan upaya penanganan, mulai dari normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, hingga peningkatan sistem drainase di wilayah rawan genangan. Pemkot juga mengintensifkan patroli wilayah dan pemantauan titik rawan longsor.
“Kami fokus pada pencegahan agar tidak terjadi korban tambahan. Tapi kami juga butuh peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan melaporkan potensi bahaya sejak dini,” imbuhnya.
Andi Harun menegaskan, penanganan banjir dan longsor tidak bisa berjalan sendiri. Ia berharap pemerintah provinsi turun tangan, baik dalam hal koordinasi antarwilayah maupun penyediaan anggaran darurat.
“Kami sudah bergerak di tingkat kota. Tapi tanpa sinergi regional, upaya ini tidak akan maksimal,” tegasnya.
Dengan penetapan status darurat ini, Pemkot berharap seluruh elemen bergerak cepat dan terpadu. Warga diminta tetap waspada menghadapi potensi bencana lanjutan akibat cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. (*)
