BONTANG – Dinas Kesehatan Kota Bontang meluncurkan inovasi pemantauan kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) pada 2026 ini. Sistem itu bernama Bersatu Cegah DBD Dengan Inovasi Nyamuk Berwolbachia (Begawai).
Kepala Dinas Kesehatan Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, sistem Begawai ini mampu memetakan persebaran kasus DBD.
Sistem peta itu bisa diakses melalui aplikasi ArcGIS Survey123. Dari peta sebaran itu, Dinkes Bontang bisa langsung melakukan intervensi terpusat.
Saat ada data tambahan baru, Dinkes langsung menerjunkan tim, untuk mendalami persebaran DBD. Sistem itu juga menjadi peringatan dini bagi kelurahan untuk mengetahui wilayah mana yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
“Inovasi ini mulai dikembangkan. Jadi data langsung tercatat didalam sistem,” ucap Toetoek Peibadi Ekowati, Rabu (5/8/2026).
Lebih lanjut, informasi peta juga bisa dilihat oleh kelurahan agar bisa konsen dalam kasus DBD berdasarkan lokasi. Kemudian, data tersebut diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan di lapangan.
Misalnya menggerakkan warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan lingkungan, hingga berbagai inovasi sesuai kondisi masing-masing wilayah.
“Proses intervensi akan dilakukan terpusat kalau ada kasus,” ucapnya.
