BONTANG – Dugaan tindak kekerasan terhadap siswa kembali mencuat di lingkungan sekolah dasar. Kali ini, peristiwa tersebut menimpa seorang murid di SDN Bontang Selatan dan dilaporkan terjadi pada Kamis (21/8) sekitar pukul 10.00 Wita.
Orang tua siswa mengungkapkan bahwa saat hendak menjemput anaknya di sekolah, ia menerima informasi bahwa sang anak tengah menangis di depan gerbang sekolah. Ia pun segera menghampiri dan menenangkan anaknya.
Ketika ditanya, siswa tersebut mengaku baru saja mengalami pemukulan oleh wali kelasnya. Mendengar pengakuan itu, sang ibu mengaku terpancing emosi dan berniat mengonfirmasi langsung kepada guru yang bersangkutan.
Namun, alih-alih mendapat penjelasan, guru yang dimaksud justru membentak dan menegur wali murid tersebut, menganggap dirinya telah difitnah dan nama baiknya dicemarkan.
Akibat kejadian ini, kondisi psikis siswa bersangkutan disebut mengalami gangguan. Ia merasa ketakutan untuk kembali ke sekolah, terlebih bertemu dengan guru yang dilaporkannya. Orang tua korban juga menyebut bahwa anaknya sempat dipaksa melepas pakaian oleh guru tersebut guna diperiksa apakah terdapat bekas kekerasan fisik. Tindakan ini dinilai tidak etis dan berlebihan.
“Saya hanya ingin bertanya secara baik-baik. Tapi guru itu langsung membentak. Anak saya pun menangis sejadi-jadinya dan mengaku telah dipukul,” ujar sang ibu.
Pada hari berikutnya, orang tua korban berencana menyampaikan pengaduan resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang. Namun, di hari yang sama, ia justru dipanggil oleh pihak pengawas sekolah.
Dalam pertemuan yang turut dihadiri kepala sekolah dan pengawas, disarankan agar siswa bersangkutan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar terlebih dahulu, hingga kondisi mentalnya kembali stabil. Namun demikian, hingga satu pekan berlalu, belum ada kepastian mengenai kapan siswa tersebut dapat kembali bersekolah seperti biasa.
Lebih memprihatinkan lagi, siswa tersebut disebut diminta mengembalikan sejumlah buku paket pelajaran, seperti Matematika, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu, ia juga dikeluarkan dari grup WhatsApp Paguyuban Kelas II.
“Anak saya akan menghadapi ulangan. Jangan sampai masalah ini membuatnya tertinggal pelajaran atau bahkan tidak naik kelas. Saya hanya berharap ia bisa kembali belajar dan guru yang bersangkutan dipindahkan,” harap sang ibu.
Guru Dilaporkan Sempat Buat Laporan ke Polisi
Tidak berhenti sampai di situ, beberapa waktu setelah insiden tersebut, orang tua siswa mengaku didatangi pihak kepolisian. Ia dimintai keterangan terkait laporan yang diajukan oleh guru yang bersangkutan.
Padahal, menurut pengakuannya, ia tidak berniat membawa perkara ini ke ranah hukum. Ia hanya ingin memperjuangkan hak anaknya agar dapat belajar dalam suasana yang aman dan nyaman.
“Kenapa malah dia yang melapor ke polisi? Saya hanya menceritakan kronologi kejadian,” imbuhnya.
Menanggapi laporan ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang menyatakan tengah mendalami permasalahan. Penanganan sementara masih berada di tingkat pengawas sekolah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Bontang, Saparuddin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan kepala sekolah, wali murid, dan pengawas pendidikan.
“Sudah kami tangani. Namun, untuk perkembangan terakhir saya belum mendapat laporan lebih lanjut. Nanti akan saya cek kembali,” ujarnya. (*)
