Samarinda – Setelah sempat menikmati tren kenaikan dalam beberapa periode terakhir, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur kini tergelincir. Pada periode 16–31 Oktober 2025, harga komoditas andalan petani ini tercatat mengalami penurunan.
Penurunan terjadi seiring turunnya harga crude palm oil (CPO) dan inti sawit (kernel) di hampir seluruh perusahaan sumber data acuan penetapan harga.
“Penurunan ini tentu berdampak pada harga TBS yang diterima petani sawit di Kaltim,” ujar Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ahmad Muzakkir.
Untuk periode 16-31 Oktober 2025, harga rata-rata tertimbang CPO ditetapkan sebesar Rp14.313,01 per kilogram, sementara kernel berada di angka Rp12.942,94 per kilogram, dengan indeks K 89,06 persen.
Sementara pada periode sebelumnya, 1-15 Oktober 2025, harga rata-rata tertimbang CPO tercatat Rp14.336,38 per kilogram, dan kernel di angka Rp12.937,69 per kilogram, dengan indeks K yang sama 89,06 persen.
Angka tersebut sempat melanjutkan tren kenaikan dari periode 16-30 September 2025, ketika harga CPO berada di Rp14.248,91 per kilogram dan kernel Rp12.453,08 per kilogram.
Adapun rincian harga TBS sawit di Kaltim untuk periode 16-31 Oktober 2025 ditetapkan yakni umur 3 tahun Rp2.961,63 per kilogram, umur 4 tahun Rp3.156,10, umur 5 tahun Rp3.177,22, umur 6 tahun Rp3.211,93, umur 7 tahun Rp3.231,72, umur 8 tahun Rp3.255,69, umur 9 tahun Rp3.325,91, dan umur 10 tahun Rp3.364,82 per kilogram.
Menurut Muzakkir, daftar harga TBS tersebut merupakan standar bagi petani yang telah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, khususnya kebun plasma. Dia menambahkan, kerja sama kelompok tani dengan pabrik minyak sawit diharapkan membuat harga TBS petani sesuai harga normal dan tidak dipermainkan tengkulak.
“Sehingga kesejahteraan kelompok tani kelapa sawit melalui kerja sama ini hendaknya dapat terwujud,” pungkasnya.
