BONTANG – Indonesia mencatat tonggak baru dalam transformasi industri pupuk nasional melalui ekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai kerja sama mencapai sekitar Rp7 triliun.
Di saat yang sama, pemerintah juga berhasil menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen serta menambah volume pupuk nasional untuk petani Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat menghadiri pelepasan ekspor perdana produk urea PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur di Pelabuhan Bontang, Rabu (14/5/2026).
Ekspor perdana tersebut menjadi bagian awal kerja sama government-to-government (G2G) antara Indonesia dan Australia di sektor pupuk.
Mentan Amran menjelaskan tahap awal ekspor yang dilepas mencapai 47.250 ton pupuk urea dengan nilai sekitar Rp600 miliar.
Menurutnya, kerja sama tersebut ditargetkan terus meningkat dari 250 ribu ton hingga mencapai 500 ribu ton dengan total nilai sekitar Rp7 triliun.
“Rencana kita akan ekspor 250.000 ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500.000 ton,” ujarnya.
Selain memperkuat pasar ekspor, pemerintah juga mencatat perkembangan signifikan di sektor pupuk dalam negeri melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan tersebut berhasil menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen tanpa tambahan beban APBN serta menambah volume pupuk subsidi sebanyak 700 ribu ton.
“Disaat geopolitik dunia memanas, Indonesia alhamdulillah harga pupuknya turun 20 persen. Pupuk subsidi untuk petani Indonesia. Kemudian volume pupuk bertambah. Inilah kebahagiaan 160 juta petani Indonesia dan 115 juta petani padi,” kata Mentan Amran.
Ia menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti meningkatnya daya saing industri pupuk nasional sekaligus membuka peluang pasar internasional yang lebih luas.
“Kami sekali lagi atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih kepada Pupuk Indonesia atas kerja kerasnya dan capaiannya,” ujarnya.
Mentan Amran juga mengungkapkan sejumlah negara mulai menunjukkan minat terhadap pupuk produksi Indonesia.
“Selain itu Dubes India sudah menghubungi saya langsung meminta 500.000 ton dan beberapa negara lain juga berminat yaitu Filipina, Brazil, Bangladesh dan ada beberapa negara lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara kedua negara.
“Atas nama Pemerintah Australia saya ingin menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Mentan Amran. Australia menghargai hubungan dengan Indonesia. Kerja sama ini mencerminkan persahabatan dan kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia,” ujarnya.
Menurut Gita, kerja sama sektor pupuk juga memberikan manfaat langsung terhadap penguatan ketahanan pangan kedua negara.
“Australia juga bangga dapat mendukung ketahanan pangan dan nilai tambah di Indonesia. Pupuk ini akan membantu petani Australia memproduksi komoditas seperti gandum yang digunakan di Indonesia,” katanya.
Pemerintah menyebut keberhasilan transformasi sektor pupuk nasional tidak terlepas dari berbagai kebijakan strategis yang dilakukan sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satunya melalui peningkatan alokasi pupuk subsidi dari sekitar 4,55 juta ton menjadi 9,55 juta ton guna mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
Selain itu, pemerintah juga melakukan deregulasi 145 aturan lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat distribusi pupuk kepada petani.
Reformasi subsidi pupuk nasional turut dilakukan dengan menghapus berbagai komponen inefisiensi sehingga diproyeksikan mampu menghemat hingga Rp14 triliun serta menekan biaya produksi pupuk nasional.
Di sisi lain, pemerintah mendorong revitalisasi besar-besaran industri pupuk nasional melalui tujuh proyek strategis dengan total investasi mencapai Rp72,84 triliun yang melibatkan sejumlah perusahaan pupuk nasional.
Modernisasi industri dilakukan melalui penggantian pabrik lama yang boros energi menjadi fasilitas baru yang lebih efisien dengan biaya produksi hingga 26 persen lebih rendah.
Melalui reformasi dan revitalisasi tersebut, pemerintah memproyeksikan penghematan subsidi pupuk hingga Rp112 triliun sampai tahun 2035.
“Pupuk bukan hanya soal produksi dan distribusi. Pupuk adalah instrumen strategis menuju kedaulatan pangan nasional,” tegas Mentan Amran.
