Peristiwa tersebut berdampak pada 11 anggota Kelompok Budidaya Ikan Biru Pesisir. Ketua kelompok, Ardi, menyebut kematian ikan terjadi di 17 keramba milik nelayan setempat.
Menurut Ardi, kematian ikan diduga berkaitan dengan perubahan kondisi air laut yang tiba-tiba berubah menjadi cokelat kehitaman dan dipenuhi busa. Kondisi tersebut juga disebut berdampak pada ikan yang berada di perairan lepas.
“Warga banyak menyerok ikan yang mati. Airnya berwarna cokelat kehitaman dan berbusa. Mungkin itu yang membuat ikan mabuk dan akhirnya mati,” ucap Ardi.
Kejadian ini menambah kekhawatiran para pembudidaya karena insiden serupa ternyata bukan pertama kali terjadi. Beberapa bulan sebelumnya, kematian ikan di keramba nelayan Loktuan juga sempat dilaporkan.
Saat kejadian terdahulu, Pemerintah Kota Bontang disebut telah turun ke lokasi untuk mengambil sampel ikan yang mati dan air laut. Namun, menurut Ardi, hingga kini para nelayan belum mendapatkan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan maupun penyebab kematian ikan tersebut.
Dampak kejadian kali ini pun berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi para pembudidaya. Ardi memperkirakan setiap keramba dapat menampung sekitar 200 ekor ikan. Dengan 17 keramba terdampak, jumlah ikan yang berpotensi mati mencapai sekitar 3.400 ekor jika seluruh keramba mengalami kematian total.
“Kalau begini terus, kami rugi dong. Satu keramba bisa ada 200 ikan. Kalikan saja 17 keramba, dan ikan mati semua. Pemkot Bontang harus turun tangan,” sambungnya.
Tidak hanya di kawasan Loktuan, informasi kematian ikan juga dilaporkan terjadi di perairan Tanjung Limau. Ardi mengaku menerima kabar tersebut dari rekannya yang juga menjalankan usaha budidaya ikan di kawasan itu.
“Bahkan, teman saya di Tanjung Limau sudah dari sore ikannya mati,” ungkapnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan Klik Kaltim kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang, Heru Triatmojo, dan Kepala Bidang Perikanan DKP3, Wardi.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum memberikan respons terkait dugaan perubahan kualitas air laut dan kematian ikan secara massal tersebut.
Penyebab pasti kematian ikan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan sampel air dan ikan. Para pembudidaya berharap pemerintah segera melakukan penelusuran agar sumber persoalan dapat diketahui dan kerugian serupa tidak kembali terjadi.
