Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan pendistribusian dimulai sekitar pukul 10.00 WITA. Bantuan menyasar warga di delapan rukun tetangga (RT), yakni RT 01 hingga RT 08, serta dua fasilitas umum di desa tersebut.
“Pendistribusian dilakukan secara langsung oleh tim gabungan ke tandon atau tempat penampungan air yang telah disediakan. Warga kesulitan air di tengah kekeringan akibat kemarau panjang,” ujar Nurlaila di Penajam, Sabtu.
Sebanyak 53.000 liter air bersih diangkut menggunakan empat kendaraan, terdiri dari tiga mobil tangki dan satu truk tangki milik perusahaan. Pengiriman dilakukan sebanyak 10 perjalanan atau trip untuk menjangkau lokasi yang membutuhkan pasokan air.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, bantuan juga disalurkan ke SD Negeri 022 Karang Jinawi dan Masjid Baiturahman yang berada di RT 05.
Pasokan air tersebut diharapkan membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah dan aktivitas ibadah di masjid.
Penyaluran air bersih ini melibatkan BPBD PPU, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), PT IHM, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.
Masing-masing pihak mengerahkan sarana pendukung untuk mempercepat distribusi. Disperkimtan, PUPR, dan BPBD PPU masing-masing menyediakan satu unit mobil tangki, sementara PT IHM mengerahkan satu unit truk tangki.
Air bersih diambil dari penampungan air di Intake Sepaku menggunakan kendaraan tangki. Sementara itu, pasokan lainnya diangkut dari Waduk Kilometer 7 menggunakan truk tangki milik PT IHM.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan. Ketersediaan kendaraan pengangkut dan dukungan lintas instansi diperlukan agar distribusi dapat menjangkau permukiman serta fasilitas umum yang membutuhkan pasokan air.
BPBD PPU terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih. Distribusi bantuan diharapkan dapat meringankan beban masyarakat Desa Karang Jinawi selama kemarau panjang masih berlangsung.
