BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) meminta masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat di tengah kondisi cuaca dan lingkungan yang dapat memicu gangguan kesehatan pernapasan.
Hal tersebut menyusul kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bontang yang sempat menunjukkan tren penurunan selama Januari hingga Mei 2026.
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan sepanjang lima bulan pertama 2026, jumlah kasus ISPA cenderung mengalami penurunan.
Berdasarkan data pelaporan seluruh puskesmas melalui aplikasi Satu Sehat VNAR ISPA, pada Januari tercatat sebanyak 2.493 kasus. Angka tersebut turun menjadi 2.105 kasus pada Februari, 1.872 kasus pada Maret, dan 1.845 kasus pada April.
Penurunan kembali terjadi pada Mei dengan jumlah 1.587 kasus. Namun, pada Juni kasus kembali meningkat menjadi 1.857 kasus atau bertambah 270 kasus dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut masih berlanjut pada Juli. Dinkes mencatat sebanyak 1.880 kasus atau meningkat 23 kasus dibandingkan Juni.
“Mulai bulan Juni tercatat adanya lonjakan kasus ISPA sebesar 17 persen dibandingkan Mei dan tren peningkatan masih terpantau hingga Juli,” ujar Toetoek, Rabu (2/9/2026).
Meski terjadi peningkatan, Dinkes Bontang belum dapat memastikan bahwa kenaikan kasus ISPA berkaitan langsung dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Menurut Toetoek, gangguan pernapasan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perubahan cuaca, paparan debu, hingga penularan virus di tengah masyarakat.
“Data pelaporan saat ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung antara kejadian karhutla regional dengan lonjakan kasus ISPA di Bontang,” jelasnya.
Dinkes Bontang tetap mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup sehat. Upaya sederhana seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengurangi paparan debu serta menggunakan masker ketika kondisi udara kurang baik dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan saluran pernapasan.
Perhatian juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, terutama balita dan lansia. Berdasarkan data Januari hingga Juli, kelompok dewasa menjadi kelompok dengan kasus ISPA paling dominan.
Sementara itu, kasus pada kelompok balita juga masih cukup tinggi, dengan jumlah berada pada rentang 378 hingga 583 kasus setiap bulan.
Toetoek mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Apabila kondisi semakin berat, warga diminta segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Segera periksakan diri apabila muncul gejala yang semakin berat, terutama jika mengalami sesak napas, napas sangat cepat, nyeri dada atau kondisi tubuh melemah secara drastis,” pungkasnya.
