RADARKALTIM.CO – Ketika pasangan mendapat promosi jabatan, memiliki penghasilan lebih tinggi, atau menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam bidang tertentu, rasa bangga terkadang dapat bercampur dengan perasaan minder. Pencapaian pasangan tanpa disadari bisa menjadi pembanding yang membuat seseorang mempertanyakan kemampuan dan pencapaiannya sendiri.
Padahal, membandingkan diri dengan pasangan merupakan hal yang cukup umum dalam hubungan romantis. Perbandingan tersebut juga tidak selalu menunjukkan bahwa hubungan sedang bermasalah atau seseorang memiliki rasa percaya diri yang rendah.
Melansir Greater Good, penelitian asisten profesor psikologi di University of San Francisco, Zachary Reese, Ph.D., menunjukkan bahwa perbandingan dengan pasangan memiliki beragam fungsi. Selain memunculkan rasa minder, perbandingan dapat membantu seseorang memahami dirinya sendiri, mengenali kelebihan pasangan, hingga mengevaluasi hubungan.
Pasangan Bisa Menjadi Cermin untuk Melihat Diri Sendiri
Reese menjelaskan bahwa seseorang rata-rata membandingkan dirinya dengan pasangan beberapa kali dalam sehari. Perbandingan itu dapat berkaitan dengan kemampuan maupun pendapat yang dimiliki masing-masing.
Misalnya, seseorang menyadari bahwa pasangannya lebih pandai mengatur keuangan, memasak, berkomunikasi, atau menyelesaikan pekerjaan. Kondisi tersebut kemudian dapat memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan diri sendiri.
Namun, perbandingan tersebut tidak selalu berdampak negatif. Justru, perbedaan kemampuan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dari pasangan sekaligus mempererat hubungan.
Penelitian Reese bersama Robin Edelstein dan Stephen Garcia terhadap lebih dari 1.100 orang dewasa di Amerika Serikat yang sedang menjalani hubungan romantis menemukan bahwa kecenderungan membandingkan kemampuan dengan pasangan lebih sering terjadi pada orang yang lebih muda, memiliki harga diri lebih rendah, serta berada dalam hubungan yang relatif baru atau kurang memuaskan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa minder ketika pasangan lebih unggul dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Tidak Semua Perbandingan Berarti Merasa Kalah
Perbandingan dalam hubungan juga tidak selalu muncul karena seseorang merasa kalah dari pasangannya. Pada hubungan yang sudah berlangsung lama dan terasa memuaskan, perbandingan dapat muncul dalam bentuk mempertimbangkan pendapat atau penilaian pasangan.
Sebagai contoh, ketika hendak membeli suatu barang, seseorang mungkin mempertimbangkan apakah pasangannya juga menilai barang tersebut layak dibeli. Hal serupa dapat terjadi ketika pasangan mengambil keputusan mengenai pengasuhan anak, keuangan, maupun berbagai persoalan rumah tangga.
Dalam situasi tersebut, pasangan tidak dijadikan standar untuk menentukan siapa yang lebih baik. Pendapat dan pengetahuan pasangan justru menjadi tambahan informasi sebelum mengambil keputusan.
Seiring berjalannya hubungan, keahlian pasangan juga dapat dipandang sebagai sumber pengetahuan yang membantu seseorang berkembang. Kemampuan pasangan yang lebih unggul dalam bidang tertentu tidak harus dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri.
Sebaliknya, pencapaian pasangan dapat menjadi inspirasi untuk mempelajari keterampilan baru atau meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki.
Jadikan Perbandingan sebagai Bahan Evaluasi Diri
Perbandingan dengan pasangan juga dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangan diri. Misalnya, seseorang yang sedang belajar memasak dapat membandingkan kemampuannya dengan pasangan untuk mengetahui sejauh mana keterampilannya berkembang.
Tujuan dari perbandingan tersebut bukan menentukan siapa yang paling hebat. Perbandingan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki dan keterampilan apa yang ingin dikembangkan.
Dalam hubungan, cara pandang seperti ini juga dapat membantu pasangan mengevaluasi kehidupan bersama. Perbandingan dapat menjadi bahan diskusi mengenai pembagian tanggung jawab rumah tangga, cara mengambil keputusan, hingga pola komunikasi.
Karena itu, ketika pasangan lebih unggul dalam suatu bidang, seseorang tidak perlu langsung menganggap dirinya tertinggal. Pencapaian pasangan dapat dilihat sebagai informasi mengenai hal yang dapat dipelajari, dikembangkan, atau diapresiasi.
Pada akhirnya, pasangan memang dapat menjadi cermin untuk melihat diri sendiri. Namun, cermin tersebut tidak harus digunakan untuk mencari kekurangan. Membandingkan diri dengan pasangan bukan otomatis tanda hubungan bermasalah.
Selama perbandingan tidak merusak harga diri atau hubungan, hal tersebut justru dapat menjadi sarana untuk memahami diri sendiri, mengenali kelebihan pasangan, serta berkembang bersama. Alih-alih menjadikan pencapaian pasangan sebagai ukuran harga diri, gunakan perbandingan tersebut untuk menemukan hal-hal yang dapat dipelajari dan menjadi motivasi untuk berkembang.
