Belanja Impulsif: Saat Self-Reward Berujung Penyesalan

Mukti Ali
11 Min Read

JAKARTA — Membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri kerap dianggap sebagai bentuk self-reward. Segelas matcha seharga Rp60.000, kosmetik, pakaian, atau barang kecil lainnya mungkin terasa seperti hadiah setelah melewati hari yang melelahkan.

Namun, ketika kondisi keuangan sedang menipis, keputusan belanja tersebut dapat memunculkan perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi muncul rasa senang dan lega, tetapi di sisi lain timbul rasa bersalah karena telah mengeluarkan uang.

Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan kemampuan mengatur keuangan. Di balik keputusan membeli barang, terdapat interaksi antara sistem emosi dan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional.

Pakar Neurosains, dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., menjelaskan bahwa kepuasan berbelanja sangat berkaitan dengan sistem limbik yang mengatur emosi. Sistem tersebut dapat bekerja berlawanan dengan korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian diri dan pemikiran logis.

“Ketika emotional state-nya sangat aktif, pada saat itu otak depan untuk berpikir logisnya jadi turun,” jelas dr. Edmi.

Dopamin Bukan Sekadar Hormon Kebahagiaan

Sensasi menyenangkan sebelum membeli barang berkaitan dengan sistem penghargaan di otak. Salah satu bagian yang berperan adalah ventral tegmental area (VTA), yang berkaitan dengan pelepasan dopamin.

Namun, psikiater dari Siloam Hospitals Mampang, dr. Karina Kalani Firdaus, Sp.KJ., menjelaskan bahwa dopamin tidak secara sederhana dapat disebut sebagai penghasil rasa puas.

Menurutnya, dopamin lebih berkaitan dengan sinyal antisipasi terhadap hadiah (reward). Karena itu, rasa senang justru dapat terasa sangat kuat ketika seseorang baru merencanakan pembelian atau melakukan window shopping.

Kepuasan setelah mendapatkan sesuatu melibatkan sistem lain di otak. Persoalannya, manusia dapat mengalami proses adaptasi sehingga membutuhkan rangsangan yang semakin kuat untuk mendapatkan sensasi kepuasan yang serupa.

Jika pola tersebut terus berulang tanpa kontrol, aktivitas belanja yang awalnya hanya menjadi hiburan dapat berkembang menjadi perilaku impulsif dan kompulsif.

Self-Reward Bisa Menjadi Pelarian dari Stres

Belanja sebagai bentuk self-reward atau retail therapy juga sering digunakan untuk mengatasi tekanan emosional. Seseorang yang sedang merasa tertekan dapat mencari kemewahan kecil sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri atau kendali.

Dr. Edmi menjelaskan, barang yang dibeli terkadang bukan hanya memiliki nilai fungsi. Ada pula value association, yakni nilai simbolis yang membuat seseorang merasa kembali memiliki status, kemampuan, atau kendali.

Secara psikologis, perilaku tersebut memang dapat memberikan sensasi positif dalam waktu singkat. Namun, bukan berarti belanja terbukti mampu menghilangkan stres secara klinis.

Baca Juga:  WhatsApp Hadirkan Fitur Username, Pengguna Kini Bisa Chat Tanpa Membagikan Nomor Telepon

Dr. Karina menegaskan, belum terdapat dasar bukti yang kuat bahwa aktivitas belanja secara langsung menurunkan biomarker stres seperti kortisol. Efek yang muncul lebih berkaitan dengan pengalaman psikologis yang bersifat sementara.

Euforia Belanja Dapat Berujung Buyer’s Remorse

Masalah muncul ketika rasa senang setelah berbelanja mulai memudar. Proses adaptasi hedonik membuat euforia tersebut tidak bertahan lama, sementara konsekuensi finansial dari pembelian tetap ada.

Kondisi ini dapat memunculkan buyer’s remorse, yaitu penyesalan setelah melakukan pembelian.

Konflik antara keinginan untuk berhemat dan keputusan membeli secara impulsif juga dapat memunculkan disonansi kognitif. Seseorang menyadari bahwa tindakannya tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai atau tujuan yang sebelumnya ia yakini.

Dalam konteks tersebut, seseorang bisa merasa ingin menghemat uang tetapi sekaligus mencari pembenaran atas pembelian yang baru dilakukan.

Menurut dr. Karina, kondisi tersebut pada dasarnya merupakan bentuk ambivalensi yang dapat terjadi secara normal. Namun, perilaku mulai menjadi persoalan ketika kemampuan seseorang mengendalikan impuls semakin menurun.

Aturan 48 Jam untuk Menekan Belanja Impulsif

Untuk mencegah belanja impulsif berkembang menjadi kebiasaan kompulsif, kedua pakar menyarankan pentingnya menciptakan jeda sebelum membeli.

Dr. Edmi menyarankan aturan 48 jam, khususnya sebelum membeli barang tersier atau barang yang tidak menjadi kebutuhan utama.

Jarak waktu tersebut memberikan kesempatan bagi seseorang untuk keluar dari dorongan emosional sesaat dan kembali mempertimbangkan keputusan secara rasional.

“Satu-satunya cara untuk menekan impulsif, hanyalah jarak waktu dan tempat. Kalau dalam waktu 48 jam lupa, artinya memang tidak penting,” ujar dr. Edmi.

Jeda juga dapat membantu seseorang memisahkan keterikatan emosional terhadap suatu barang dari keputusan pembelian.

Cari Cara Lain untuk Mengelola Stres

Selain menunda pembelian, penting bagi seseorang untuk memiliki berbagai cara menghadapi stres agar belanja tidak menjadi satu-satunya mekanisme coping.

Dr. Karina menyarankan aktivitas seperti berolahraga di ruang publik, bersosialisasi, menghabiskan waktu di ruang terbuka, serta menjaga kualitas tidur.

Selama memberikan jeda dari dorongan belanja, teknik grounding dan mindfulness juga dapat digunakan untuk membantu seseorang kembali memperhatikan kondisi dirinya saat ini.

Pada akhirnya, membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri bukan otomatis merupakan tindakan yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik pembelian, kemampuan mengendalikan dorongan, serta dampaknya terhadap kondisi keuangan dan kehidupan sehari-hari.

Dengan memberikan waktu sebelum mengambil keputusan, seseorang memiliki kesempatan untuk membedakan antara barang yang benar-benar dibutuhkan dan keinginan sesaat yang muncul karena emosi.

Baca Juga:  Code Blue di Rumah Sakit, Jadi Alaram Saat Pasien Alami Henti Jantung

JAKARTA — Membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri kerap dianggap sebagai bentuk self-reward. Segelas matcha seharga Rp60.000, kosmetik, pakaian, atau barang kecil lainnya mungkin terasa seperti hadiah setelah melewati hari yang melelahkan.

 

Namun, ketika kondisi keuangan sedang menipis, keputusan belanja tersebut dapat memunculkan perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi muncul rasa senang dan lega, tetapi di sisi lain timbul rasa bersalah karena telah mengeluarkan uang.

 

Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan kemampuan mengatur keuangan. Di balik keputusan membeli barang, terdapat interaksi antara sistem emosi dan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional.

 

Pakar Neurosains, dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., menjelaskan bahwa kepuasan berbelanja sangat berkaitan dengan sistem limbik yang mengatur emosi. Sistem tersebut dapat bekerja berlawanan dengan korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian diri dan pemikiran logis.

 

“Ketika emotional state-nya sangat aktif, pada saat itu otak depan untuk berpikir logisnya jadi turun,” jelas dr. Edmi.

 

Dopamin Bukan Sekadar Hormon Kebahagiaan

 

Sensasi menyenangkan sebelum membeli barang berkaitan dengan sistem penghargaan di otak. Salah satu bagian yang berperan adalah ventral tegmental area (VTA), yang berkaitan dengan pelepasan dopamin.

 

Namun, psikiater dari Siloam Hospitals Mampang, dr. Karina Kalani Firdaus, Sp.KJ., menjelaskan bahwa dopamin tidak secara sederhana dapat disebut sebagai penghasil rasa puas.

 

Menurutnya, dopamin lebih berkaitan dengan sinyal antisipasi terhadap hadiah (reward). Karena itu, rasa senang justru dapat terasa sangat kuat ketika seseorang baru merencanakan pembelian atau melakukan window shopping.

 

Kepuasan setelah mendapatkan sesuatu melibatkan sistem lain di otak. Persoalannya, manusia dapat mengalami proses adaptasi sehingga membutuhkan rangsangan yang semakin kuat untuk mendapatkan sensasi kepuasan yang serupa.

 

Jika pola tersebut terus berulang tanpa kontrol, aktivitas belanja yang awalnya hanya menjadi hiburan dapat berkembang menjadi perilaku impulsif dan kompulsif.

 

Self-Reward Bisa Menjadi Pelarian dari Stres

 

Belanja sebagai bentuk self-reward atau retail therapy juga sering digunakan untuk mengatasi tekanan emosional. Seseorang yang sedang merasa tertekan dapat mencari kemewahan kecil sebagai cara untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri atau kendali.

 

Dr. Edmi menjelaskan, barang yang dibeli terkadang bukan hanya memiliki nilai fungsi. Ada pula value association, yakni nilai simbolis yang membuat seseorang merasa kembali memiliki status, kemampuan, atau kendali.

 

Secara psikologis, perilaku tersebut memang dapat memberikan sensasi positif dalam waktu singkat. Namun, bukan berarti belanja terbukti mampu menghilangkan stres secara klinis.

 

Baca Juga:  Waspada Diabetes pada Anak, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya

Dr. Karina menegaskan, belum terdapat dasar bukti yang kuat bahwa aktivitas belanja secara langsung menurunkan biomarker stres seperti kortisol. Efek yang muncul lebih berkaitan dengan pengalaman psikologis yang bersifat sementara.

 

Euforia Belanja Dapat Berujung Buyer’s Remorse

 

Masalah muncul ketika rasa senang setelah berbelanja mulai memudar. Proses adaptasi hedonik membuat euforia tersebut tidak bertahan lama, sementara konsekuensi finansial dari pembelian tetap ada.

 

Kondisi ini dapat memunculkan buyer’s remorse, yaitu penyesalan setelah melakukan pembelian.

 

Konflik antara keinginan untuk berhemat dan keputusan membeli secara impulsif juga dapat memunculkan disonansi kognitif. Seseorang menyadari bahwa tindakannya tidak sepenuhnya sejalan dengan nilai atau tujuan yang sebelumnya ia yakini.

 

Dalam konteks tersebut, seseorang bisa merasa ingin menghemat uang tetapi sekaligus mencari pembenaran atas pembelian yang baru dilakukan.

 

Menurut dr. Karina, kondisi tersebut pada dasarnya merupakan bentuk ambivalensi yang dapat terjadi secara normal. Namun, perilaku mulai menjadi persoalan ketika kemampuan seseorang mengendalikan impuls semakin menurun.

 

Aturan 48 Jam untuk Menekan Belanja Impulsif

 

Untuk mencegah belanja impulsif berkembang menjadi kebiasaan kompulsif, kedua pakar menyarankan pentingnya menciptakan jeda sebelum membeli.

 

Dr. Edmi menyarankan aturan 48 jam, khususnya sebelum membeli barang tersier atau barang yang tidak menjadi kebutuhan utama.

 

Jarak waktu tersebut memberikan kesempatan bagi seseorang untuk keluar dari dorongan emosional sesaat dan kembali mempertimbangkan keputusan secara rasional.

 

“Satu-satunya cara untuk menekan impulsif, hanyalah jarak waktu dan tempat. Kalau dalam waktu 48 jam lupa, artinya memang tidak penting,” ujar dr. Edmi.

 

Jeda juga dapat membantu seseorang memisahkan keterikatan emosional terhadap suatu barang dari keputusan pembelian.

 

Cari Cara Lain untuk Mengelola Stres

 

Selain menunda pembelian, penting bagi seseorang untuk memiliki berbagai cara menghadapi stres agar belanja tidak menjadi satu-satunya mekanisme coping.

 

Dr. Karina menyarankan aktivitas seperti berolahraga di ruang publik, bersosialisasi, menghabiskan waktu di ruang terbuka, serta menjaga kualitas tidur.

 

Selama memberikan jeda dari dorongan belanja, teknik grounding dan mindfulness juga dapat digunakan untuk membantu seseorang kembali memperhatikan kondisi dirinya saat ini.

 

Pada akhirnya, membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri bukan otomatis merupakan tindakan yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik pembelian, kemampuan mengendalikan dorongan, serta dampaknya terhadap kondisi keuangan dan kehidupan sehari-hari.

 

Dengan memberikan waktu sebelum mengambil keputusan, seseorang memiliki kesempatan untuk membedakan antara barang yang benar-benar dibutuhkan dan keinginan sesaat yang muncul karena emosi.

Share This Article