Tips Jaga Tahan Tubuh untuk Cegah ISPA di Musim Kemarau

Redaksi Radarkaltim
3 Min Read

MUSIM kemarau identik dengan cuaca panas, udara kering, debu yang beterbangan, hingga kualitas udara yang dapat memburuk.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena paparan debu dan polusi udara bisa meningkatkan peluang munculnya masalah kesehatan seperti infeksi saluran pernafasan akut atau ISPA pada individu yang rentan.

Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menyampaikan bahwa debu dan polutan udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan jika terhirup.

“Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas,” katanya, melansir Antara, Senin (17/8/2026).

Ia mengatakan bahwa orang dengan daya tahan tubuh rendah lebih berpeluang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara semasa kemarau.

“Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya,” ujarnya.

Dia menyarankan penerapan pola makan bergizi seimbang yang mencakup buah-buahan, sayur-sayuran, dan sumber vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca Juga:  Pembantaian Dukun Santet hingga Sayap-Sayap Patah 2, Sinopsis Film Tayang di Bioskop Bontang Mei 2025

Konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan juga bisa dipertimbangkan ketika kualitas udara memburuk.

“Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok,” ungkapnya.

Selain itu, dia menyarankan penerapan skala prioritas dalam melakukan kegiatan di luar rumah pada masa kualitas udara memburuk.

Jika memang harus melakukan kegiatan di luar rumah saat cuaca panas dan kualitas udara buruk, maka sebaiknya menggunakan kacamata dan pelindung wajah untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya iritasi mata dan saluran pernapasan akibat paparan polusi udara.

“Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsumsi obat-obatan rutin bagi individu yang menderita penyakit pernapasan kronis seperti asma pada masa kualitas udara memburuk.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan bahwa angka kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari sampai Juli 2026.

Baca Juga:  RSUD Taman Husada Sesuaikan Durasi Terapi dengan Kondisi Pasien Rehabilitasi Medik

Istilah ISPA digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru.

Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, infeksi saluran pernapasan akut bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.

Paparan polusi udara juga dapat menyebabkan masalah pernapasan dan memicu infeksi saluran napas.

Gejala ISPA antara lain batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, pilek, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.

Dokter Feni mengatakan, kalau gejala-gejala itu muncul pada individu dengan kerentanan seperti balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, dan penderita penyakit jantung, maka yang bersangkutan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Share This Article