BONTANG – Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Taman Husada Bontang, tidak menerapkan sistem antrean berdasarkan urutan kedatangan pasien.
Setiap pasien yang datang, akan terlebih dahulu menjalani proses triase untuk menentukan tingkat kegawatan dan prioritas penanganan, serta kebutuhan pelayanan medis.
Kepala Ruangan IGD RSUD Taman Husada Bontang, Sri Ariyani menjelaskan, triase merupakan sistem pemilahan pasien berdasarkan kondisi dan tingkat kegawatannya. Triase dilakukan sejak pasien tiba di IGD untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan penanganan segera dan menentukan prioritas pelayanan.
“Triase itu adalah sistem pemilahan pasien yang kita tangani berdasarkan tingkat kegawatannya. Kalau di IGD itu kita menangani bukan berdasarkan siapa yang duluan datang, tapi siapa yang memenuhi kategori triase,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, pasien dikelompokkan menjadi empat kategori, yakni triase merah, kuning, hijau, dan hitam. Triase merah, merupakan kategori dengan prioritas tertinggi, yaitu pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa atau mengalami gangguan pada fungsi vital sehingga membutuhkan penanganan segera.
Sementara, triase kuning diberikan kepada pasien dengan kondisi gawat yang memerlukan penanganan medis, tetapi pada saat penilaian awal belum menunjukkan kondisi yang mengharuskan tindakan resusitasi segera.
“Pasien tetap memerlukan pemantauan dan dapat mengalami perubahan kondisi sehingga dilakukan penilaian ulang secara berkala,” tambahnya.
Lanjutnya, sedangkan triase hijau, diberikan kepada pasien dengan kondisi relatif ringan, tidak menunjukkan tanda kegawatan, dan kondisi klinisnya memungkinkan untuk menunggu pelayanan sesuai prioritas.
Adapun triase hitam, digunakan untuk pasien yang telah meninggal dunia atau pada kondisi tertentu dinilai tidak memiliki tanda-tanda kehidupan dan tidak memerlukan tindakan resusitasi sesuai hasil penilaian klinis dan ketentuan yang berlaku. Penanganan selanjutnya dilakukan sesuai prosedur rumah sakit.
Pun, sistem triase tersebut diterapkan untuk memastikan pasien dengan kondisi paling mengancam nyawa mendapatkan penanganan secepat mungkin.
“Dengan demikian, pelayanan IGD dapat berjalan berdasarkan kebutuhan medis dan tingkat kegawatan masing-masing pasien,” tutupnya.
