Orangtua Diminta Tak Diagnosis Anak Berdasarkan Media Sosial dan AI

Mukti Ali
3 Min Read

Media sosial kini menjadi salah satu sumber informasi bagi orangtua untuk memahami tumbuh kembang dan perilaku anak. Berbagai konten mengenai neurodivergensi, seperti autisme, ADHD, hingga kondisi perkembangan lainnya, banyak ditemukan di platform digital seperti TikTok dan Instagram.

Informasi tersebut dapat membantu orangtua mengenali tanda-tanda tertentu pada anak. Namun, terlalu banyak mengandalkan informasi dari media sosial juga dapat membuat orangtua menarik kesimpulan sendiri mengenai kondisi anak.

Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan orangtua agar tidak melakukan *self-diagnose* atau diagnosis sendiri hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari internet dan media sosial.

Menurut Erna, banyaknya informasi mengenai kesehatan dan perkembangan anak yang beredar di media sosial membuat orangtua perlu lebih selektif dalam menyerap informasi. Kehadiran influencer atau pembuat konten juga membuat informasi mengenai neurodivergensi semakin mudah diterima dan dapat memengaruhi cara orangtua memahami kondisi anak.

Karena itu, orangtua disarankan untuk mengecek sumber informasi sebelum mempercayai atau menerapkannya. Hal yang perlu diperhatikan antara lain siapa yang menyampaikan informasi, apakah memiliki kompetensi di bidang tersebut, serta dari mana sumber atau referensi informasi tersebut berasal.

Baca Juga:  Khusus Hari Ini, ShopeePay Sebar Saldo Gratis Rp2,5 Juta, Berikut Cara Klaimnya!

Konten yang kredibel umumnya mencantumkan sumber dan referensi yang dapat diperiksa. Dengan melakukan pengecekan, orangtua dapat membedakan informasi yang memiliki dasar ilmiah dengan informasi yang belum tentu sesuai dengan kondisi anak.

Pasalnya, karakteristik atau perilaku tertentu pada anak tidak selalu menunjukkan adanya kondisi neurodivergen. Setiap anak memiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda sehingga diperlukan penilaian yang menyeluruh untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Selain media sosial, Erna juga mengingatkan orangtua agar tidak menggunakan kecerdasan buatan atau AI sebagai alat untuk mendiagnosis kondisi anak. AI memang dapat membantu orangtua memahami suatu topik dan memperoleh informasi awal, tetapi hasil yang diberikan tidak dapat menggantikan pemeriksaan serta penilaian dari tenaga profesional.

AI bekerja dengan mengolah dan merangkum informasi berdasarkan pertanyaan yang diberikan pengguna. Oleh sebab itu, jawaban AI tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan apakah seorang anak mengalami kondisi tertentu.

Jika orangtua memiliki kekhawatiran mengenai tumbuh kembang atau perilaku anak, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional. Orangtua dapat mendiskusikan kondisi anak dengan dokter anak, psikolog, atau tenaga kesehatan lain yang sesuai untuk memperoleh penilaian dan rekomendasi yang tepat.

Baca Juga:  Rekomendasi Villa Bontang Kuala, Lengkap dengan Nomor Telepon: Cocok untuk Liburan Keluarga

Orangtua juga dianjurkan memanfaatkan waktu konsultasi dengan sebaik mungkin. Berbagai pertanyaan yang muncul setelah melihat konten di media sosial atau mendapatkan informasi dari internet dapat dibawa saat berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.

Dengan cara tersebut, orangtua tidak perlu menentukan sendiri apakah informasi yang ditemukan di internet sesuai dengan kondisi anak. Konsultasi profesional dapat membantu orangtua memahami kondisi anak, menentukan langkah yang diperlukan, serta memantau tumbuh kembang sesuai kebutuhan.

Media sosial dan AI pada akhirnya tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan awal. Namun, keduanya tidak seharusnya menjadi pengganti diagnosis, pemeriksaan, dan konsultasi dengan tenaga profesional.

Share This Article