Samarinda— Gelombang aksi demonstrasi besar yang mengguncang Kalimantan Timur pada 21 April 2026 masih menyisakan polemik. Di tengah ribuan massa yang memadati Kantor Gubernur, sorotan justru mengarah pada sikap Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, yang tidak terlihat menemui peserta aksi saat situasi memanas.
Aksi yang melibatkan ribuan massa ini merupakan bagian dari gelombang protes terhadap kebijakan pemerintah provinsi, dengan tuntutan audit kebijakan hingga desakan pemberantasan praktik KKN. Massa bahkan sempat merangsek ke area kantor gubernur hingga terjadi kericuhan dan pembubaran paksa oleh aparat.
Alih-alih muncul di tengah massa, Rudy Mas’ud justru mengunggah sebuah video pada dini hari setelah aksi berlangsung. Dalam video tersebut, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada sejumlah pihak, yang kemudian memicu reaksi beragam dari publik.
Banyak warganet mempertanyakan ketidakhadiran gubernur saat massa menuntut audiensi secara langsung. Sebelumnya, dalam rangkaian aksi, Rudy diketahui meninggalkan kantor tanpa menemui demonstran maupun memberikan pernyataan kepada media.
Ketidakhadiran tersebut semakin memperkuat persepsi publik bahwa pemerintah daerah belum memberikan respons langsung terhadap tuntutan masyarakat. Padahal, aksi ini disebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar di Kaltim dalam beberapa waktu terakhir, dengan jumlah massa mencapai ribuan orang.
Di sisi lain, langkah komunikasi melalui video dini hari dianggap sebagian pihak sebagai upaya meredam situasi. Namun bagi sebagian lainnya, hal itu justru dinilai tidak tepat momentum, bahkan terkesan menghindari dialog terbuka dengan masyarakat.
Hingga kini, polemik terkait sikap Rudy Mas’ud masih menjadi perbincangan hangat, terutama di Kalimantan Timur, seiring meningkatnya tekanan publik agar pemerintah lebih responsif terhadap aspirasi warga.
