Dinkes Pastikan Hasil Uji MBG Yang Diduga Buat Pelajar dan Giri Mual Berlangsung Transparan

Redaksi Wy
5 Min Read

BONTANG – Hasil uji laboratorium makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan keluhan mual dan muntah yang dialami 31 murid dan guru di Bontang dijadwalkan keluar Senin (10/8/2026).

Namun, sebelum hasil tersebut diumumkan, terdapat sejumlah tahapan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi mikrobiologis pada makanan.

Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui.

Diantaranya, mengambil satu paket sampel makanan diambil dari Dapur SPPG Bontang Utara 2 di Kelurahan Api-Api. Sampel tersebut terdiri dari nasi, sayur, ayam, dan serundeng. Sampel itu diambil dan diperiksa secara komprehensif di Laboratorium Kesehatan Daerah.

Sampel tersebut kemudian disimpan dalam kondisi tertentu untuk menjaga agar kondisi bahan pangan tetap representatif sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Selanjutnya, tahapan Pemeriksaan mikrobiologi. Sampel makanan kemudian menjalani pemeriksaan mikrobiologi pada Kamis (6/8/2026).

Pemeriksaan tersebut meliputi sejumlah bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, yakni Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), dan Staphylococcus.

Usai diambil, sampel makanan akan masuk pada proses inkubasi. Semua bahan tersebut ditempatkan di dalam inkubator untuk menjalani proses inkubasi biakan mikrobiologi.

Tahapan ini diperlukan untuk melihat pertumbuhan mikroorganisme yang menjadi objek pemeriksaan.

Kemudian, tim akan memantau dan menunggu pertumbuhan biakan sampling. Proses pemeriksaan tidak dapat langsung menghasilkan kesimpulan.

Setidaknya membutuhkan waktu sekitar 2 x 24 jam untuk melihat hasil pertumbuhan mikrobiologi.

“Untuk hasil perlu 2×24 jam. Jadi Senin hasilnya bisa ditampilkan,” kata Toetoek.

Usai tahapan itu keluar, tim juga akan membandingkan hasil laboratorium dengan kondisi korban. Hasil laboratorium nantinya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab kejadian.

Dinkes Bontang masih perlu melihat kesesuaian antara mikroorganisme yang ditemukan dengan pola gejala yang dialami korban, waktu munculnya keluhan, serta jenis makanan yang dikonsumsi.

Masih dalam penjelasan Toetoek, tim kemudian akan menggabungkan bukti epidemiologi dan laboratorium

Tujuannya agar bukti epidemiologi bisa berbanding dengan hasil pemeriksaan spesimen dari penderita.

Tahapan ini dilakukan untuk memastikan apakah agen yang ditemukan pada makanan atau bahan pangan memang memiliki keterkaitan dengan kejadian yang dialami para siswa dan guru.

Setelah seluruh informasi dikumpulkan, Dinkes Bontang baru dapat menyusun kesimpulan investigasi.

Kesimpulan nantinya dapat mengarah pada dugaan kejadian keracunan pangan apabila bukti epidemiologi dan hasil laboratorium saling mendukung.

“Hal itu juga apabila bukti epidemiologi dan laboratorium mendukung. Semoga kejadian ini juga tidak berulang,” ungkapnya.

Sementara itu, Dinkes Bontang saat ini masih fokus memantau kondisi para korban.

Menurut Toetoek, kondisi para siswa dan guru yang sebelumnya mengalami keluhan mual, muntah hingga diare kini telah membaik.

“Para korban saat ini sudah pulih. Bisa beraktivitas. Tapi tetap kami pantau,” ujarnya.

Distribusi MBG Dihentikan Sementara

Sebelumnya, keluhan mual dan muntah muncul setelah sejumlah siswa mengonsumsi menu MBG pada Rabu (5/8/2026).

Wali murid SD Negeri 012 Bontang Selatan kemudian melaporkan adanya sejumlah siswa yang mengalami sakit perut hingga muntah setelah menerima makanan tersebut.

Informasi kejadian itu juga ramai beredar di media sosial.

Salah satu wali murid yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengatakan, beberapa siswa terlihat mengeluhkan sakit perut dan muntah saat jam penjemputan sekolah.

Sejumlah siswa kemudian digotong untuk mendapatkan perawatan.

“Anak saya tidak pernah makan MBG. Tapi teman sekelasnya pada kena. Grup paguyuban pun ramai,” ucapnya.

Pasca munculnya laporan tersebut, distribusi MBG dari SPPG Bontang Utara 2, Kelurahan Api-Api, dihentikan sementara mulai Jumat (7/8/2026).

Penghentian dilakukan setelah muncul laporan keluhan mual, muntah hingga diare yang dialami puluhan siswa dan guru di sejumlah satuan pendidikan penerima MBG.

Sedikitnya 31 siswa dan guru dilaporkan mengalami keluhan tersebut.

Akibat penghentian sementara itu, sebanyak 2.477 penerima manfaat untuk sementara tidak mendapatkan distribusi MBG dari SPPG Bontang Utara 2.

Hasil uji laboratorium yang dijadwalkan keluar Senin (10/8/2026) nantinya menjadi salah satu bagian penting dalam proses investigasi Dinkes Bontang untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi mikrobiologis pada makanan yang diperiksa.

Baca Juga:   22 Dapur MBG di Bontang Berhenti Beroperasi Selama Libur Sekolah, Hemat Anggaran 21,1 Miliar
Share This Article