Cadangan Air Kaltim Menipis, Samarinda dan Balikpapan Mulai Siapkan Skenario Krisis

Redaksi Wy
4 Min Read

SAMARINDA – Pemerintah mulai memperketat pengelolaan sumber air baku di Kalimantan Timur seiring kemarau panjang yang masih berlangsung hingga akhir September 2026.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memperketat pengaturan operasi sumber air sekaligus menambah sumber pasokan melalui pembangunan sumur dalam.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperpanjang daya tahan cadangan air baku yang terus tertekan akibat kemarau. BWS menilai pengaturan pengambilan air menjadi penting agar cadangan yang tersedia dapat bertahan lebih lama.

Kasi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air BWS Kalimantan IV Samarinda, Gus Agung Guntoro, mengatakan khusus di Balikpapan telah dibangun dua sumur dalam sebagai sumber air baku tambahan.

Salah satu sumur tersebut mampu menghasilkan debit sekitar 10 liter per detik.

“Khusus di Balikpapan, kami telah membangun dua sumur dalam sebagai sumber tambahan air baku, dengan salah satunya mampu menghasilkan debit sekitar 10 liter per detik,” kata Gus Agung.

Pengaturan pengambilan air dari sumber-sumber yang tersedia juga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas tampungan.

Baca Juga:  Deretan Aksi Demonstrasi di Kalimantan Hari Ini, Berikut Info Lokasinya

Kondisi cadangan air di Balikpapan menjadi salah satu perhatian utama. Pengambilan air baku dari Waduk Manggar dan Waduk Teritip sebelumnya telah dikurangi sejak 1 September 2026 berdasarkan instruksi BWS Kalimantan IV.

Dari Waduk Manggar, pengambilan air diturunkan dari 1.150 liter per detik menjadi 900 liter per detik. Sementara pengambilan dari Waduk Teritip turun dari 220 liter per detik menjadi 110 liter per detik.

Total pengurangan pengambilan air baku dari kedua waduk tersebut mencapai 360 liter per detik. Kebijakan ini berdampak pada pelayanan air bersih sekitar 38 ribu sambungan rumah pelanggan PTMB.

PTMB juga menyiapkan tiga terminal tangki sebagai bagian dari mitigasi apabila kondisi pasokan air semakin terbatas. Pemerintah Kota Balikpapan menyebut berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pelayanan air bersih di tengah kemarau dan dampak El Nino.

BWS Kalimantan IV menyatakan apabila kondisi tanpa hujan terus berlangsung, pengambilan air dari Waduk Manggar akan kembali disesuaikan secara bertahap berdasarkan kapasitas tampungan.

Tekanan terhadap sumber air juga terjadi di Samarinda. Pada September 2026, intrusi air laut masuk ke aliran Sungai Mahakam dan menyebabkan kadar klorida air baku sempat melampaui ambang aman 250 ppm.

Baca Juga:  Kejanggalan Penculikan Royyan Terungkap, Pelaku Minta Rp200 Juta, Tapi Korban Sudah Dibunuh Sejak Hari Pertama Penculikan

Kondisi tersebut membuat sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) melakukan penyesuaian jam operasional. Sebagai respons terhadap gangguan pasokan, pemerintah menyalurkan 98 ribu liter air bersih untuk 2.440 jiwa yang terdampak.

Gangguan akibat intrusi air laut bahkan sempat membuat kadar klorida di salah satu titik Sungai Mahakam mencapai 1.085 ppm sehingga produksi IPA Sungai Kapih harus dihentikan sementara.

Kondisi intrusi kemudian mulai mereda di sejumlah titik, meski pengelolaan sumber air tetap harus memperhitungkan kondisi kemarau yang masih berlangsung.

Situasi ini menunjukkan adanya perubahan strategi pemerintah dalam menghadapi kemarau panjang.

Pada awal September, BWS Kalimantan IV menyebut secara umum cadangan air bersih di berbagai infrastruktur tampungan Kaltim masih diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga Desember 2026.

Untuk Balikpapan, BWS bersama pengelola air telah menyusun skenario penghematan agar cadangan dapat bertahan hingga akhir tahun.

Namun, perkembangan hingga 24 September menunjukkan sumber air harus dikelola semakin ketat. Penyusutan tampungan, pengurangan pengambilan air baku, gangguan akibat intrusi air laut, serta belum berakhirnya kemarau membuat pemerintah harus menyiapkan sumber alternatif.

Baca Juga:  Korban Bertambah, Jatam Kaltim Soroti Lubang Tambang Palaran Yang renggut 53 Nyawa

Selain sumur dalam, BWS juga terus menghitung kebutuhan dan kehilangan air akibat evaporasi untuk memastikan cadangan yang tersedia dapat digunakan selama mungkin.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan pengelola layanan air di Kaltim kini tidak hanya berfokus pada ketersediaan air saat ini, tetapi juga menjaga agar cadangan yang tersisa mampu menopang kebutuhan masyarakat hingga musim hujan kembali.

Share This Article