BALIKPAPAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa semakin kuat di sejumlah wilayah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Sabtu (29/8/2026) pagi.
Pantauan di lapangan menunjukkan langit di sejumlah kawasan Balikpapan diselimuti kabut tipis. Matahari juga terlihat kemerahan. Aroma asap bahkan tercium cukup kuat dalam dua hari terakhir.
Kabut asap terpantau mulai dari kawasan Balikpapan Kota hingga Balikpapan Timur. Meski kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat, aktivitas warga masih berlangsung normal.
Kabut asap umumnya mulai berkurang ketika memasuki siang hari. Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian mengingat kasus kebakaran lahan di Balikpapan terus meningkat sepanjang tahun ini.
Data Pusdalops BPBD Kota Balikpapan mencatat terdapat 31 kejadian kebakaran lahan sepanjang 2026 hingga 25 Agustus 2026. Luas semak dan belukar yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 16 hektare atau 160.210 meter persegi.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan data hingga 22 Agustus 2026 yang mencatat 25 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 13,9 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Balikpapan Usman Ali mengatakan, kebakaran lahan tersebar di sejumlah kecamatan.
“BPBD Kota Balikpapan mencatat sebanyak 31 kejadian kebakaran lahan di Kota Balikpapan sepanjang tahun 2026 hingga pembaruan data pada 25 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA,” ujar Usman, Rabu (26/8/2026).
Balikpapan Utara menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 10 kejadian. Rinciannya, enam kasus terjadi di Kelurahan Graha Indah dan empat lainnya di Karang Joang.
Sementara Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur masing-masing mencatat sembilan kejadian kebakaran lahan.
Di Balikpapan Selatan, kebakaran terjadi empat kali di Sepinggan, dua kali di Sepinggan Baru, serta masing-masing satu kejadian di Sepinggan Raya, Damai Baru dan Gunung Bahagia.
Sedangkan di Balikpapan Timur, Kelurahan Manggar menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak dengan enam kasus. Lamaru mencatat dua kasus dan Manggar Baru satu kasus.
Dampak kabut asap karhutla juga sebelumnya dirasakan dalam aktivitas penerbangan yang menghubungkan Balikpapan dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Dua penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan sempat mengalami keterlambatan pada Jumat (28/8/2026).
General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan R Iwan Winaya Mahdar menjelaskan, keterlambatan tersebut terjadi akibat pesawat yang akan melayani penerbangan dari Balikpapan terlambat tiba dari Banjarmasin.
Menurut Iwan, jarak pandang di Bandara SAMS Sepinggan ketika itu masih dalam kondisi normal sehingga operasional bandara tetap berjalan.
“Penyebab delay karena menunggu kedatangan pesawat dari Banjarmasin menuju Balikpapan. Ketika penerbangan dari Banjarmasin terlambat, maka jadwal keberangkatan berikutnya dari Balikpapan otomatis ikut terdampak,” jelasnya.
Dua penerbangan yang terdampak yakni Wings Air IW 1395 dan Citilink QG 1494.
Penerbangan Wings Air yang semula dijadwalkan berangkat pukul 07.55 WITA baru lepas landas pada pukul 09.34 WITA. Sementara Citilink yang dijadwalkan berangkat pukul 10.35 WITA mengalami penundaan hingga pukul 11.35 WITA.
Keterlambatan tersebut berkaitan dengan kondisi kabut asap karhutla di Kalimantan Selatan yang menurunkan jarak pandang di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Kondisi itu kemudian mengganggu rotasi pesawat yang melayani rute Banjarmasin-Balikpapan.
Meningkatnya kejadian kebakaran lahan dan munculnya kabut asap membuat masyarakat Balikpapan diminta meningkatkan kewaspadaan.
Warga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap di sekitar lingkungan. Langkah cepat diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama di tengah kondisi lahan yang relatif kering.
Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Balikpapan belum berakhir. Selain berpotensi mengganggu kualitas udara, kebakaran lahan juga dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi apabila asap semakin pekat.
