BONTANG – Kondisi fisik pasien menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum menjalani kemoterapi.
Di RSUD Taman Husada Kota Bontang, dokter menggunakan sejumlah parameter medis, skor ECOG (Eastern Coorperative Oncology Group) dan Karnofsky Performance Status sebagai salah satu acuan untuk menilai kelayakan pasien menerima terapi kanker.
Perawat Unit Kemoterapi, RSUD Taman Husada Bontang, Andi Suryani menyampaikan, penilaian tersebut dilakukan oleh dokter dengan melihat kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari serta kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Hasil penilaian, kemudian dipadukan dengan pemeriksaan medis lainnya sebelum diputuskan apakah kemoterapi dapat diberikan.
“Yang menilai itu dokter. Ada daftar penilaiannya, kemudian hasilnya diakumulasi. Kalau Karnofsky sekitar 70 persen ke atas biasanya bisa menjalani kemoterapi. ECOG juga melihat kondisi umum pasien, misalnya bisa makan sendiri atau bangun sendiri,” ujarnya, Rabu (5/8/2026)
Kata dia, perawat tidak menentukan kelayakan pasien untuk menjalani kemoterapi. Tugas tenaga keperawatan adalah melaksanakan tindakan sesuai instruksi dokter setelah pasien dinyatakan siap menjalani terapi.
“Kalau dari kami melihat pasiennya sadar, kondisi stabil, akses infus lancar, jadwal sdh ditetapkan dan obat ready maka tindakan kemoterapi kami lakukan sesuai instruksi,” tambahnya.
Selain kondisi fisik pasien, setiap regimen kemoterapi juga memiliki durasi pemberian yang berbeda. Kata dia, setiap pemberian obat kemoterapi umumnya diselingi cairan pembilas selama sekitar lima hingga sepuluh menit sebelum dilanjutkan ke obat berikutnya sesuai regimen terapi yang diterapkan dokter.
Namun, pada jenis kemoterapi tertentu, pada ada kasus atau diagnosa dengan regimen khusus, pemberian obat maupun cairan pendamping dapat berlangsung hingga 24 jam sehingga pasien perlu menjalani rawat inap.
“Kalau kami cairan pembilas paling 5 sampai 10 menit, jadi masing-masing obat kemo ada pembilasnya habis itu baru lanjut kemoterapi,” terangnya.
Lanjutnya, kondisi pasien menjelang jadwal kemoterapi juga menjadi perhatian dokter. Apabila pasien mengalami penurunan kondisi, seperti menggigil atau demam, muntah berulang lebih dari tiga kali, diare, gula darah tinggi, tensi terlalu tinggi atau kasus emergency yg harus segera mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dokter akan melakukan evaluasi ulang sebelum terapi diberikan.
“Misalnya pasien dijadwalkan kemoterapi besok, tetapi malam sebelumnya masuk IGD karena kondisinya menurun dan diharuskan rawat inap, pada saat rawat inap kondisinya membaik, biasanya kemoterapi akan dilakukan di ruang perawatan saat itu juga” tutupnya.
