Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara resmi menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk membantu mengamankan Selat Hormuz. Langkah ini diambil usai konflik di Timur Tengah yang memasuki minggu ketiga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari. Hingga saat ini, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (16/3/2026).
Penutupan ini berdampak fatal bagi ekonomi global karena melumpuhkan seperlima pasokan minyak dunia.
Penutupan saat ini juga tercatat sebagai gangguan distribusi terbesar sepanjang sejarah.Dalam pernyataannya pada akhir pekan lalu, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghubungi tujuh negara untuk meminta bantuan. Meski demikian, dia tidak merinci daftar negara tersebut secara langsung. Namun, melalui unggahan di media sosial sebelumnya, Trump berharap China, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lainnya bersedia berpartisipasi. Menanggapi seruan Washington tersebut, berikut respons dari sejumlah negara, sebagaimana dilansir Reuters.
1. Jepang
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan pada Senin bahwa saat ini pihaknya belum berencana mengirimkan kapal militer untuk melakukan pengawalan di Timur Tengah. “Kami belum membuat keputusan apa pun mengenai pengiriman kapal pengawal. Kami terus memeriksa apa yang dapat dilakukan Jepang secara independen dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” ujar Takaichi di hadapan parlemen. Takaichi dijadwalkan terbang ke Washington minggu ini untuk melakukan pembicaraan dengan Trump. Menurutnya, pembahasan tersebut akan mencakup pembahasan mengenai konflik dengan Iran.
2. Australia
Australia menyatakan secara tegas tidak akan mengirimkan kapal angkatan laut untuk membantu pembukaan kembali Selat Hormuz. “Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau sesuatu yang kami kontribusikan,” kata Catherine King, anggota kabinet Perdana Menteri Anthony Albanese, dalam wawancara dengan ABC.
3. Korea Selatan Korea Selatan menyatakan masih mempertimbangkan permintaan tersebut. Kantor kepresidenan Korea Selatan menyebut akan menjalin komunikasi erat dengan AS sebelum mengambil keputusan.
“Kami akan berkomunikasi erat dengan AS mengenai masalah ini dan membuat keputusan setelah peninjauan yang cermat,” tulis pernyataan resmi kantor kepresidenan, Minggu (15/3/2026). Sesuai konstitusi Korea Selatan, pengerahan pasukan ke luar negeri memerlukan persetujuan parlemen.
4. Inggris dan Kanada
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah membahas urgensi pembukaan kembali Selat Hormuz bersama Trump guna menghentikan gangguan pada pengiriman global. Juru bicara perdana menteri berucap bahwa Starmer juga telah berbicara dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney. Keduanya sepakat untuk melanjutkan pembicaraan mengenai konflik Timur Tengah dalam pertemuan pada hari Senin ini.
5. Uni Eropa
Para menteri luar negeri Uni Eropa (UE) dijadwalkan membahas penguatan misi angkatan laut kecil di Timur Tengah pada Senin ini. Namun, para diplomat dan pejabat memperkirakan mereka tidak akan membahas perluasan peran misi tersebut hingga ke Selat Hormuz yang sedang diblokade. Sebagai informasi, UE memiliki misi Aspides yang dibentuk pada 2024 untuk melindungi kapal dari serangan kelompok Houthi di Laut Merah.
6. Jerman
Terkait rencana UE, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan keraguannya.
Dia menilai misi Aspides bahkan belum efektif menjalankan tugasnya yang sekarang. “Itulah mengapa saya sangat skeptis bahwa memperluas Aspides ke Selat Hormuz akan memberikan keamanan yang lebih besar,” tegas Wadephul dalam wawancara dengan televisi Jerman, ARD.
