BONTANG – Warga Kota Bontang dihebohkan dengan lonjakan tagihan air bersih yang mencapai berkali lipat. Keluhan ini ramai dibagikan di media sosial, bahkan beberapa pelanggan mengaku harus membayar hingga jutaan rupiah dalam satu bulan.
Kenaikan tagihan tersebut terjadi setelah penyesuaian tarif air bersih yang mulai berlaku pada April 2026. Kebijakan ini mengacu pada Surat Keputusan Wali Kota Bontang Nomor 100.3.3.3/85/PSDA/202, yang mengatur tarif berdasarkan kelompok pelanggan dan volume pemakaian air.
Dalam skema terbaru, tarif air dibagi ke dalam beberapa kategori, seperti sosial, rumah tangga, hingga sektor usaha. Selain itu, sistem tarif bertingkat juga diterapkan, di mana semakin tinggi konsumsi air, maka biaya yang harus dibayar akan semakin besar.
Penelusuran terhadap sejumlah bukti pembayaran yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa lonjakan tagihan umumnya dipicu oleh tingginya penggunaan air.
Salah satu pelanggan tercatat harus membayar hingga Rp2 juta setelah menggunakan 181 meter kubik air dalam sebulan. Sementara itu, pelanggan lainnya membayar hampir Rp700 ribu dengan pemakaian mencapai 67 meter kubik.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Taman, Suramin, menyampaikan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti keluhan yang beredar di masyarakat. Menurutnya, sebagian besar kasus berkaitan dengan tingginya konsumsi air oleh pelanggan.
Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan tagihan membengkak, seperti kebocoran pipa atau penggunaan satu meter air untuk beberapa kebutuhan sekaligus, misalnya untuk usaha maupun rumah kontrakan.
Untuk mengatasi hal tersebut, pelanggan diimbau segera melapor ke kantor Perumdam Tirta Taman agar dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut.
Sebagai solusi, Perumdam juga memberikan opsi pembayaran secara mencicil guna meringankan beban pelanggan. Di sisi lain, evaluasi terus dilakukan terhadap kasus-kasus lonjakan tagihan yang dinilai tidak wajar.
Masyarakat pun diminta tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kenaikan tagihan sebelum dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Contohnya di Loktuan, ada satu meter yang digunakan untuk beberapa rumah kontrakan, sehingga pemakaian menjadi tinggi,” jelas Suramin.
