BONTANG – Pemerintah Kota Bontang memanggil seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengikuti rapat koordinasi dan evaluasi menyusul munculnya keluhan mual dan muntah dari puluhan penerima manfaat Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Rapat dipimpin Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris di Auditorium 3 Dimensi, Jalan Awang Long, Selasa (11/8/2026).
Dalam rapat tersebut, Agus Haris secara khusus mengevaluasi dua SPPG yang dalam sepekan terakhir mendapat laporan penerima MBG mengalami gejala mual dan muntah.
Evaluasi difokuskan pada penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), mulai dari proses pengolahan sayur, nasi, lauk dan buah hingga pengemasan serta pendistribusian makanan kepada penerima manfaat.
“Yang kami evaluasi itu SOP-nya. Mulai dari produksi sampai makanan diantar ke penerima manfaat,” kata Agus Haris.
Salah satu yang menjadi sorotan yakni SPPG Bontang Utara 2. Berdasarkan hasil uji sampling Dinas Kesehatan Bontang, ditemukan pertumbuhan bakteri patogen pada lauk ayam goreng serundeng dan gulai sayur lodeh yang diproduksi pada Rabu (5/8/2026).
Selain temuan bakteri, penggunaan kemiri sebagai bahan pengganti santan juga menjadi perhatian. Saat itu, sebanyak 10 kilogram kemiri digunakan dalam satu bumbu untuk memproduksi sekitar 2.036 porsi MBG.
Penggunaan bahan tersebut diduga turut menjadi salah satu faktor yang memicu keluhan mual dan muntah pada 27 penerima manfaat.
“Mereka mengakui penggunaan kemiri 10 kilogram dalam satu bumbu untuk memproduksi 2.036 porsi saat itu. Dari hasil Dinkes juga menyebutkan kemungkinan adanya gejala itu karena bahan pengganti tersebut,” jelasnya.
Agus kemudian mengevaluasi SPPG Bontang Selatan 5 yang dilaporkan melayani penerima manfaat dengan keluhan serupa.
Total terdapat 36 siswa dan guru yang mengalami mual dan muntah. Sebanyak 11 orang di antaranya bahkan harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Badak LNG.
Namun, penyebab pasti kejadian di SPPG Bontang Selatan 5 masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
“Kita masih menunggu hasilnya. Tapi dari pihak SPPG mengaku ada kelebihan bahan pada ayam suwir,” ungkap Agus.
Ia menegaskan hasil evaluasi akan menjadi bahan perbaikan agar pelaksanaan program MBG di Bontang tidak kembali menimbulkan keluhan kesehatan bagi penerima manfaat.
Pemerintah Kota Bontang juga meminta seluruh SPPG memastikan setiap tahapan pengolahan dan distribusi makanan dijalankan sesuai SOP yang telah ditetapkan.
