BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang bergerak cepat menindaklanjuti temuan Wali Kota Neni Moernaeni terkait kasus anak putus sekolah di Kelurahan Bontang Lestari.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, mengungkapkan pihaknya telah melakukan penelusuran. Dari hasil klarifikasi dengan sekolah, diketahui bahwa anak tersebut berhenti bersekolah atas keputusan orang tua.
Saat itu, wali murid sempat menyampaikan rencana untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. Namun, rencana tersebut tidak pernah direalisasikan.
“Buktinya masih kami miliki,” ujar Saparuddin, Sabtu (28/3/2026).
Menindaklanjuti hal tersebut, Disdikbud berencana menurunkan tim untuk melakukan pendekatan persuasif kepada orang tua agar anak kembali melanjutkan pendidikan. Pihak sekolah pun telah menyatakan kesediaannya menerima kembali siswa tersebut, dengan syarat adanya komitmen dari orang tua untuk memastikan kehadiran anak secara rutin.
Langkah ini dinilai penting mengingat siswa tersebut sebelumnya kerap tidak masuk sekolah tanpa keterangan.
“Kami akan memastikan anak tersebut tetap mendapatkan haknya dalam pendidikan,” tegasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, mengaku terkejut saat melakukan kunjungan ke lokasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Bontang Lestari, Jumat (27/3/2026). Dalam kunjungan itu, ia menemukan adanya anak yang telah putus sekolah.
Temuan tersebut berada di RT 08, Jalan Linmas 2. Diketahui, seorang anak berhenti sekolah sejak kelas IV SD. Keputusan itu diambil orang tua karena anak dinilai belum mampu membaca dan tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut.
Menanggapi kondisi tersebut, Neni langsung menginstruksikan Disdikbud untuk segera menangani kasus itu. Ia menilai situasi tersebut memprihatinkan, terlebih anak tersebut sudah cukup lama tidak bersekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan bermain gawai.
“Ini cukup mengejutkan, ada dua anak. OPD terkait harus segera menangani. Beruntung saya turun langsung ke lokasi sehingga mengetahui kondisi ini,” ujar Neni. (*)
