BALIKPAPAN – Seekor Pesut Mahakam ditemukan mati mengapung di wilayah Kampung Baru, Desa Liang, Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (5/5/2026). Mamalia air tawar langka berjenis kelamin jantan itu diketahui merupakan individu ikonik bernama “Lion” yang telah dipantau selama puluhan tahun oleh peneliti konservasi.
Informasi tersebut disampaikan oleh Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), organisasi yang fokus pada pelestarian pesut di Sungai Mahakam. Lion disebut sebagai salah satu pesut yang telah teridentifikasi melalui studi foto identifikasi sejak tahun 1999.
“Merespons laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Yayasan RASI, BPK Pontianak, Pokdarwis Pela, dan PDHI Samarinda segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi,” tulis keterangan resmi dari unggahan terverifikasi Instagram Yayasan RASI, Kamis (6/5/2026).
Dalam proses evakuasi, tim gabungan melakukan serangkaian pemeriksaan mulai dari pengukuran tubuh, penimbangan, hingga prosedur nekropsi sebelum akhirnya bangkai pesut dikuburkan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Lion memiliki panjang tubuh mencapai 2,35 meter dengan berat sekitar 152 kilogram. Tim juga menemukan tanda-tanda usia tua pada kondisi fisiknya, terutama pada bagian gigi yang sudah aus dan beberapa di antaranya telah tanggal.
“Lion sudah lama sekali menjadi bagian dari ekosistem Sungai Mahakam. Namun hingga saat ini penyebab pasti kematiannya belum dapat dipastikan,” tulis pihak Yayasan RASI.
Meski nekropsi telah dilakukan, tim ahli masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel organ tubuh Lion guna memastikan penyebab kematian secara medis.
Pesut Mahakam sendiri merupakan satwa langka yang dilindungi pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Populasi Pesut Mahakam saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Berdasarkan data Yayasan RASI, hingga tahun 2025 jumlah pesut yang tersisa di Sungai Mahakam diperkirakan hanya sekitar 60 ekor.
Penurunan populasi itu dipicu berbagai ancaman, mulai dari jeratan jaring nelayan, tabrakan kapal tongkang, hingga pencemaran bahan kimia dan logam berat dari aktivitas di sungai yang merusak ekosistem habitat pesut.
RASI mencatat, selama 25 tahun terakhir sekitar 70 persen kematian pesut disebabkan oleh jeratan jaring nelayan. Sementara itu, sekitar 8 persen disebabkan tabrakan kapal dan 9 persen akibat paparan racun di perairan Sungai Mahakam.
Kematian Lion menjadi kehilangan besar bagi upaya konservasi Pesut Mahakam yang selama ini menjadi simbol penting keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.
