Tragedi Monster Sangatta 1996: Teror Buaya Raksasa yang Menggemparkan Kalimantan Timur

Redaksi Wy
4 Min Read

KUTAI TIMUR – Nama Monster Sangatta masih melekat kuat dalam ingatan masyarakat Kalimantan Timur. Tiga dekade telah berlalu, namun kisah seekor buaya muara raksasa yang meneror Sungai Kenyamukan pada 1996 tetap menjadi salah satu tragedi satwa liar paling menggemparkan di Indonesia.

Peristiwa tersebut bukan sekadar cerita rakyat, melainkan bagian dari sejarah kelam hubungan manusia dengan predator alami di kawasan pesisir Kalimantan Timur. Hingga kini, kisah Monster Sangatta masih sering diperbincangkan, terutama ketika terjadi kembali insiden serangan buaya di wilayah Bontang, Kutai Timur, maupun Kutai Kartanegara.

Teror bermula pada awal 1996 ketika seorang warga bernama Hairani (35) dilaporkan hilang saat beraktivitas di sekitar Sungai Kenyamukan, Sangatta.

Pencarian besar-besaran segera dilakukan oleh warga bersama aparat keamanan. Di tengah pencarian, muncul dugaan bahwa Hairani menjadi korban seekor buaya muara berukuran sangat besar yang selama beberapa waktu terakhir kerap terlihat di perairan tersebut.

Saat itu, Sungai Kenyamukan memang masih didominasi kawasan hutan mangrove dan rawa yang menjadi habitat alami buaya muara (Crocodylus porosus), salah satu reptil terbesar dan paling agresif di dunia.

Baca Juga:  Puluhan SD Negeri di Bontang Dipasangi CCTV, Disdikbud Targetkan Rampung Pekan Ini

Perburuan berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan warga, aparat, hingga pawang buaya yang memiliki pengalaman menangkap reptil liar.

Puncaknya terjadi pada 8 Maret 1996 ketika seekor buaya jantan raksasa berhasil ditangkap menggunakan umpan dan teknik khusus.

Pemandangan saat itu mengejutkan banyak orang.

Buaya tersebut memiliki panjang sekitar 6,6 meter dengan berat diperkirakan mencapai 450–500 kilogram, menjadikannya salah satu buaya terbesar yang pernah ditangkap di Indonesia pada masa itu.

Kabar yang paling menggemparkan muncul setelah proses pemeriksaan terhadap tubuh buaya dilakukan. Di dalam perut predator tersebut ditemukan sisa-sisa jasad Hairani, yang memastikan bahwa korban memang diterkam dan dimangsa oleh reptil raksasa tersebut.

Peristiwa itu langsung menjadi perhatian masyarakat Kalimantan Timur dan menghiasi berbagai pemberitaan nasional pada masanya.

Teror ternyata belum benar-benar berakhir.

Sekitar satu bulan setelah penangkapan Monster Sangatta, tepatnya 10 April 1996, kembali terjadi serangan buaya di kawasan Tanjung Limau, Muara Badak.

Korban bernama Baddu dilaporkan meninggal dunia setelah diterkam seekor buaya betina berukuran besar.

Baca Juga:  Mentan Amran: Ekspor Pupuk ke Australia Tembus Rp7 Triliun, Selanjutnya India, Filipina, Brazil, dan Bangladesh

Melalui operasi lanjutan, buaya tersebut akhirnya berhasil ditangkap. Panjangnya mencapai sekitar 5,25 meter.

Banyak warga saat itu meyakini kedua buaya tersebut merupakan pasangan yang menguasai kawasan perairan di sekitar pesisir Kutai.

Berbeda dengan kebiasaan memusnahkan satwa liar setelah insiden serangan, Pemerintah Kabupaten Kutai kala itu mengambil keputusan berbeda.

Kedua buaya raksasa tersebut diawetkan sebagai koleksi edukasi agar masyarakat dapat melihat secara langsung ukuran sebenarnya sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan habitat satwa liar.

Hingga kini, replika sekaligus koleksi fisik Monster Sangatta dapat disaksikan di Museum Kayu Tuah Himba, Tenggarong.

Bagi banyak pengunjung, keberadaan koleksi tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan pengingat bahwa Kalimantan memiliki habitat alami bagi predator besar yang harus dihormati.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serangan buaya kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, termasuk Bontang, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Berau, hingga Paser.

Perubahan bentang alam, aktivitas manusia yang semakin dekat dengan habitat buaya, serta meningkatnya interaksi di kawasan sungai dan pesisir dinilai menjadi salah satu faktor meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar.

Baca Juga:  Pelaku Usaha Diminta Lengkapi SLF, DPM-PTSP Bontang Buka Konsultasi Legalitas Bangun

Karena itu, masyarakat diimbau tetap berhati-hati ketika beraktivitas di sungai, muara, tambak, maupun kawasan mangrove yang diketahui menjadi habitat buaya muara.

Tiga puluh tahun setelah tragedi tersebut, kisah Monster Sangatta tetap dikenang sebagai salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Kalimantan Timur. Di balik cerita menyeramkan itu, tersimpan pelajaran penting bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam, sekaligus menghormati wilayah yang sejak lama menjadi rumah bagi predator purba tersebut.

Share This Article