BONTANG – Di tengah gempuran kafe modern bergaya kebarat-baratan, kuliner tradisional di Bontang tetap punya tempat di hati masyarakat. Salah satunya adalah Warung Pojok, yang kini telah bertahan hingga 43 tahun dengan cita rasa autentik yang tak berubah.
Berlokasi di Jalan Sutan Syahrir, Tanjung Laut Indah, tepat di samping Masjid Al Hijrah, Warung Pojok menjadi salah satu ikon kuliner legendaris di Kota Taman.
Warung ini tetap mempertahankan bangunan lama yang sederhana sebagai ciri khas sekaligus saksi perjalanan usaha turun-temurun tersebut.
Tak hanya dari segi tampilan, cara memasak pun masih tradisional. Hingga kini, Warung Pojok tetap menggunakan tungku berbahan bakar kayu. metode ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga rahasia kelezatan masakan mereka.
@jamuannusantara Warung Pojok Bu Wahyu! Warung nasi campur dan pecel kebanggan Kota Bontang yang sudah cukup lama. Berdiri sejak tahun 1983. Yang unik proses masaknya masih menggunakan kayu bakar + suasana rumah nya yabg jadul. Membuat semuanya disini jadi lebih otentik. 📍Jalan Kenangan 38, Tanjung Laut – Bontang ⏰07.00 – 18.00 💰Nasi Campur / Pecel – 16K #jelajahgajian #jamuannusantara #kuliner #bontang #kalimantantimur #viral #kulinerbontang #warteg
Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari nasi campur hingga nasi pecel dengan berbagai pilihan lauk. namun, satu menu yang paling khas dan selalu diburu pelanggan adalah botok, yang menjadi ciri unik dari warung ini sejak dulu.
Kini, meski harga bahan pokok terus naik, Warung Pojok tetap mempertahankan konsep merakyat dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan Rp 15 ribu kita sudah bisa menikmati 1 porsi nasi campur khas Warung Pojok.
Di saat banyak tempat makan datang dan pergi, Warung Pojok justru membuktikan bahwa cita rasa sederhana bisa bertahan melawan waktu.
Kalau kamu warga Bontang, sudah pernah coba warung legendaris ini? Atau justru punya kenangan sendiri di sana?
