BONTANG – Pemandangan antrean truk yang mengular kini menjadi hal yang nyaris setiap hari terlihat di sejumlah SPBU di Bontang. Dalam beberapa hari terakhir, deretan kendaraan berat itu bahkan memanjang hingga ratusan meter dan memicu kemacetan di sejumlah titik jalan utama.
Kondisi tersebut paling terlihat di SPBU Tanjung Laut dan SPBU Akawy. Sejak pagi hari, truk-truk sudah berjejer menunggu giliran mengisi solar subsidi. Tak jarang, antrean itu meluber hingga memakan badan jalan, membuat arus lalu lintas melambat dan mempersempit ruang gerak pengendara lain.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pengguna jalan. Sejumlah pelaku usaha di sekitar lokasi mengaku kesulitan menjalankan aktivitas karena akses menuju tempat usaha mereka tertutup antrean kendaraan. Situasi ini dinilai merugikan dan mengganggu kelancaran kegiatan ekonomi warga.
Panjang antrean pun terbilang ekstrem. Di kawasan SPBU Akawy, barisan truk dilaporkan mencapai depan Mapolres Bontang di Jalan Bhayangkara. Sementara di SPBU Tanjung Laut, antrean sempat menembus simpang tiga Bukit Indah dengan panjang sekitar satu kilometer.
Menariknya, antrean sudah mulai terbentuk bahkan sebelum distribusi BBM dibuka. Para sopir memilih datang lebih awal untuk mengamankan giliran, meski harus menunggu berjam-jam. Kondisi ini membuat pengendara lain harus ekstra waspada saat melintas demi menghindari potensi kecelakaan.
Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya pengurangan kuota solar subsidi. Pihak Pertamina melalui Branch Manager (SBM) Kaltimut III Fuel, Hermawan Bagus Prabowo, menyatakan bahwa laporan terkait antrean panjang telah diterima. Namun, ia menegaskan pengaturan antrean merupakan tanggung jawab masing-masing SPBU agar tidak mengganggu jalur umum.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bontang memastikan akan turun langsung ke lapangan untuk mengevaluasi kondisi tersebut. Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setkot Bontang, Moch Arif Rochman, mengungkapkan adanya indikasi penurunan kuota solar di salah satu SPBU, khususnya di Tanjung Laut.
Menurutnya, kuota yang sebelumnya mencapai 16 kiloliter per hari diduga berkurang menjadi hanya 8 kiloliter. Pemerintah saat ini masih melakukan koordinasi dan konfirmasi lebih lanjut dengan Pertamina guna memastikan kebijakan distribusi BBM subsidi tersebut.
Persoalan antrean solar ini bukan kali pertama terjadi di Bontang. Warga berharap ada langkah konkret dari pihak terkait agar masalah serupa tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas masyarakat.
