SAMARINDA — Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) tengah mendalami kasus dugaan kelalaian medis terhadap seorang bayi berusia tiga bulan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Insiden tersebut diduga terjadi akibat pemasangan infus yang tidak tepat hingga menyebabkan tangan bayi menghitam.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pihaknya saat ini masih menghimpun informasi dan melakukan investigasi awal terkait kejadian tersebut.
“Kami sedang mendalami kasus ini. Yang jelas, persoalan ini harus segera diselesaikan oleh pihak rumah sakit,” ujarnya.
Dinkes Kaltim membenarkan telah menerima laporan dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak terkait kondisi bayi yang mengalami pembengkakan serta perubahan warna kulit menjadi hitam di area bekas pemasangan infus.
Jaya menegaskan, insiden ini termasuk kategori kejadian tidak diinginkan dalam pelayanan medis yang harus segera ditindaklanjuti dan dievaluasi secara menyeluruh demi peningkatan mutu layanan rumah sakit.
Ia juga menginstruksikan manajemen rumah sakit untuk memanggil pihak keluarga korban serta menyampaikan kronologi kejadian secara transparan kepada Dinkes sebagai bentuk tanggung jawab.
“Langkah mitigasi cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah ketidakpuasan masyarakat yang berpotensi berujung pada somasi atau tuntutan hukum,” tegasnya.
Sesuai pedoman dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, setiap pasien berhak mendapatkan pelayanan medis yang mengutamakan keselamatan tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan. Standar pelayanan juga menekankan pentingnya menjaga mutu secara konsisten serta menekan angka kejadian fatal hingga nol persen.
Dinkes Kaltim turut mengajak insan pers untuk mengawal proses investigasi secara profesional dan proporsional berdasarkan fakta di lapangan.
Sebelumnya, bayi tersebut dirawat karena muntaber di RSUD AWS Samarinda. Namun, saat dilakukan pemasangan infus ulang di tangan kanan pada Jumat (6/3), kondisi justru memburuk.
Orang tua korban, Rafita, mengungkapkan tangan anaknya mengalami pembengkakan, melepuh, hingga menghitam. Diduga, cairan infus tidak masuk ke pembuluh darah sebagaimana mestinya.
Meski pihak dokter menyarankan tindakan operasi bedah plastik, keluarga menolak karena mempertimbangkan risiko tinggi pada bayi yang masih sangat kecil.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan segera mendapatkan kejelasan serta penyelesaian yang adil bagi semua pihak.
