Jakarta – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah kini mulai berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk kenaikan harga kantong plastik di pasaran. Kondisi ini tidak lepas dari terganggunya pasokan minyak dunia yang menjadi bahan baku utama produksi plastik.
Kenaikan harga kantong plastik dipicu oleh gangguan distribusi energi global akibat konflik di Timur Tengah. Sekitar 60 persen bahan baku plastik berupa naphta masih bergantung pada impor dari kawasan tersebut.
Salah satu jalur penting distribusi energi dunia, Selat Hormuz, berperan besar dalam kelancaran pasokan minyak. Ketika jalur ini terganggu, pasokan minyak tersendat dan berdampak langsung pada kenaikan harga bahan baku plastik.
Akibatnya, biaya produksi meningkat dan harga plastik di tingkat pedagang ikut melonjak.
Sejumlah pedagang mengaku sudah merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Harga plastik ukuran besar yang sebelumnya sekitar Rp25.000 kini naik menjadi Rp30.000. Sementara plastik kecil dari Rp10.000 menjadi Rp12.000.
Seorang pedagang bahkan mengungkapkan bahwa ia kini harus lebih selektif dalam memberikan kantong plastik kepada pembeli.
“Kadang bersyukur kalau pembeli nggak minta plastik pembungkus,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik tidak berdampak secara langsung saja, tetapi juga memicu efek domino ke berbagai sektor industri. Beberapa sektor yang terdampak antara lain:
- Makanan dan minuman (FMCG)
- Industri tekstil
- Industri otomotif
Karena plastik menjadi bagian penting dalam pengemasan dan distribusi, kenaikan harga ini berujung pada meningkatnya harga barang kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga plastik, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Mengurangi ketergantungan terhadap plastik
- Mengoptimalkan kebijakan larangan kantong plastik
- Membawa tas belanja sendiri
- Menggunakan bahan alternatif seperti kertas atau tas pakai ulang
Namun, daur ulang saja dinilai belum cukup untuk mengatasi masalah ini. Pasalnya, konsumsi plastik masih tinggi dan ketergantungan terhadap bahan tersebut belum berkurang secara signifikan.
Langkah paling efektif adalah mengurangi penggunaan plastik sejak dari sumbernya. Dengan perubahan kebiasaan masyarakat, diharapkan dampak kenaikan harga plastik dapat ditekan sekaligus membantu menjaga lingkungan.
