BONTANG – Sejumlah unggahan di forum jual beli Facebook ramai menawarkan beras bantuan pemerintah di Bontang, Kalimantan Timur. Beras bantuan yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga penerima manfaat itu ditawarkan kembali dengan harga Rp110 ribu per karung berukuran 10 kilogram.
Praktik penjualan kembali beras bantuan tersebut telah diketahui oleh Perum Bulog. Penerima manfaat yang terbukti menjual bantuan pangan itu terancam dicoret dari daftar penerima.
Kepala Bulog Samarinda, Adi Yanuar, menegaskan bahwa beras bantuan pemerintah diberikan secara gratis untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang berhak menerima.
Karena itu, bantuan tersebut tidak boleh diperjualbelikan kembali.
“Dilarang menjual beras itu. Karena itu kan pemberian gratis. Di karungnya sudah tercantum. Kalau ketahuan bakal dicabut dari penerima manfaat,” ucap Adi Yanuar.
Adi mengatakan, pengawasan dilakukan untuk memastikan bantuan pangan benar-benar dimanfaatkan sesuai peruntukannya. Bulog juga menyebut terdapat tim pemeriksa yang memantau penyaluran bantuan tersebut.
“Pasti ketahuan, karena nanti kan ada badan pemeriksa yang mengecek,” sambungnya.
Adi menjelaskan, bantuan beras pemerintah ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan penerima manfaat selama tiga bulan ke depan.
Oleh sebab itu, ia meminta camat dan lurah ikut mengingatkan masyarakat agar tidak menjual kembali beras bantuan yang telah diterima.
Menurutnya, bantuan tersebut semestinya digunakan untuk konsumsi keluarga, bukan dijadikan barang dagangan demi memperoleh uang tunai.
“Semoga kejadian ini tidak berulang,” katanya.
Berdasarkan data terakhir, pada September 2026, Bulog telah menyalurkan bantuan cadangan pangan berupa beras kepada 15.410 penerima manfaat yang tersebar di 15 kelurahan di Bontang.
Bulog berharap pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat dapat mencegah penyalahgunaan bantuan pangan. Dengan begitu, bantuan pemerintah dapat dimanfaatkan sesuai tujuan, yakni membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat penerima manfaat.
