Bahaya Kabut Asap Karhutla, Kenali Gejala dan Cara Melindungi Saluran Pernapasan

Mukti Ali
4 Min Read

 

RADARKALTIM.CO – KABUT asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menjadi perhatian. Paparan asap dalam waktu lama dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Di tengah kondisi tersebut, masker dan air purifier menjadi pilihan masyarakat untuk mengurangi paparan polutan. Namun, penggunaan alat pelindung tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan tingkat kerentanan masing-masing orang.

Menghirup udara yang tercemar asap karhutla dalam waktu lama tidak selalu langsung menyebabkan sesak napas. Reaksi tubuh umumnya muncul secara bertahap, mulai dari gejala ringan hingga gangguan pernapasan yang lebih serius.

Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menjelaskan bahwa keluhan awal dapat berupa bersin dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

“Pertama bersin dulu. Kemudian tenggorokan enggak enak, terganjal-ganjal kayak ada yang ngeganjal, lama-lama sakit tenggorokan,” ujar Prof. Erlina.

Jika paparan asap terus berlangsung tanpa perlindungan yang memadai, iritasi dapat berkembang menjadi batuk berkepanjangan hingga sesak napas.

Baca Juga:  WhatsApp Hadirkan Fitur Username, Pengguna Kini Bisa Chat Tanpa Membagikan Nomor Telepon

Kondisi tersebut juga dapat semakin berat apabila terjadi infeksi. Gejala yang muncul dapat berkembang menjadi demam, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bahkan pneumonia.

Karena itu, masyarakat disarankan tidak mengabaikan gejala awal akibat paparan kabut asap. Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila keluhan terus berlanjut atau semakin berat.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang buruk. Meski demikian, masker tidak memberikan perlindungan mutlak terhadap seluruh risiko akibat kabut asap.

Adjunct Professor di Griffith University, Prof. Dr. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR., menegaskan bahwa respirator atau masker sebaiknya digunakan dengan tepat, terutama ketika kondisi udara sedang buruk.

Menurutnya, respirator dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Namun, penggunaannya tetap tidak dapat menjamin seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko paparan asap.

Bagi masyarakat yang sangat rentan terhadap gangguan pernapasan, Prof. Erlina menyebut masker N95 dapat memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan masker bedah.

Baca Juga:  Pakar Ungkap Alasan Tidur Cukup Tingkatkan Produktivitas

Meski begitu, penggunaan masker dalam waktu lama juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman karena terasa pengap. Oleh sebab itu, pemilihan jenis pelindung pernapasan perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Selain perlindungan ketika berada di luar rumah, kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan. Salah satu perangkat yang dapat digunakan untuk membantu menyaring udara adalah air purifier.

Namun, penggunaan air purifier bukan berarti menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap.

Prof. Tjandra menyarankan masyarakat menggunakan air purifier apabila memang tersedia. Namun, perangkat tersebut tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa seseorang otomatis aman dari dampak kabut asap hanya karena berada di ruangan yang menggunakan penyaring udara.

Dengan kata lain, air purifier dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu mengurangi polutan di dalam ruangan, tetapi bukan satu-satunya bentuk perlindungan.

Pengaturan ventilasi rumah juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kabut asap. Ketika kondisi udara di luar sangat buruk dan kabut asap terasa pekat, pintu serta jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya polutan ke dalam rumah.

Baca Juga:  BPBD Bontang Gandeng PT Indominco Matangkan Gladi Apel Kesiapsiagaan Karhutla

Prof. Erlina menyarankan agar masyarakat tidak berada di luar rumah ketika kondisi kabut asap sangat pekat.

Namun, menutup seluruh ventilasi bukan berarti harus dilakukan secara permanen. Ketika kualitas udara di luar mulai membaik, ventilasi perlu kembali dibuka agar sirkulasi udara di dalam rumah tetap berjalan dengan baik.

Dengan demikian, menghadapi kabut asap karhutla membutuhkan langkah perlindungan yang disesuaikan dengan kondisi. Menggunakan masker, menjaga kualitas udara di dalam rumah, serta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap sedang pekat dapat membantu mengurangi paparan polutan.

Share This Article