Jakarta – Banyak orang menganggap begadang sebagai cara untuk mengejar target pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Sejumlah pakar kesehatan justru menegaskan bahwa tidur yang cukup menjadi salah satu faktor penting agar seseorang dapat bekerja lebih efektif, fokus, dan menghasilkan kualitas kerja yang lebih baik.
Menurut pakar kesehatan Dasgupta, kurang tidur dapat mengganggu berbagai fungsi penting otak. Ketika waktu istirahat tidak terpenuhi, seseorang akan lebih sulit berkonsentrasi, mengingat informasi, hingga menyelesaikan persoalan yang membutuhkan pemikiran kompleks. Kondisi tersebut membuat produktivitas menurun meski seseorang menghabiskan waktu lebih lama untuk bekerja.
Senada dengan itu, psikiater Hafeez menjelaskan bahwa dampak kurang tidur tidak hanya memengaruhi kemampuan berpikir, tetapi juga kondisi emosional. Orang yang mengalami kurang tidur cenderung lebih mudah tersinggung, lebih sensitif terhadap tekanan, dan kesulitan mengendalikan emosinya. Jika dibiarkan berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperburuk hubungan dengan orang lain, menurunkan kualitas pengambilan keputusan, hingga meningkatkan konflik di lingkungan kerja.
Selain itu, kurang tidur secara kronis juga dapat menghambat kreativitas, menurunkan kemampuan belajar, serta membuat seseorang tidak menyadari bahwa performa kerjanya telah mengalami penurunan. Akibatnya, seseorang merasa tetap produktif karena bekerja lebih lama, padahal hasil yang diperoleh justru tidak maksimal.
Sebaliknya, tidur yang cukup memberikan kesempatan bagi otak untuk memulihkan diri. Saat seseorang tertidur, bagian otak yang dikenal sebagai korteks prefrontal menjalani proses pemulihan. Area ini memiliki peran penting dalam mengatur perhatian, menyusun perencanaan, mengambil keputusan, hingga memecahkan masalah. Setelah memperoleh istirahat yang cukup, otak dapat kembali bekerja secara optimal sehingga kemampuan berpikir menjadi lebih tajam pada keesokan harinya.
Dasgupta menambahkan bahwa orang yang memiliki waktu tidur yang cukup umumnya mampu berpikir lebih jernih, mengambil keputusan dengan lebih tepat, dan menyelesaikan pekerjaan yang rumit dalam waktu lebih singkat. Menurutnya, produktivitas bukan ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja, melainkan bagaimana ia mampu bekerja dengan lebih cerdas, dan kualitas tidur memiliki peran besar dalam hal tersebut.
Sementara itu, Hafeez menyebut orang yang memprioritaskan waktu tidur biasanya memiliki fokus yang lebih baik, tidak mudah mengalami kelelahan mental, lebih jarang menunda pekerjaan, mampu menyusun prioritas dengan baik, serta menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas. Mereka juga dinilai lebih tenang saat menghadapi tekanan, lebih mudah bekerja sama dengan rekan kerja, dan memiliki kemampuan berpikir kreatif maupun strategis yang lebih baik.
Para ahli juga membagikan sejumlah langkah sederhana untuk menjaga kualitas tidur. Di antaranya adalah tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, menghentikan penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur, mengurangi aktivitas pada malam hari, menciptakan kamar yang nyaman, sejuk, gelap, dan minim gangguan, menghindari membawa ponsel ke tempat tidur, serta mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup pada siang hari.
Dengan menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten, tubuh dan otak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan proses pemulihan. Hasilnya, seseorang dapat menjalani aktivitas dengan kondisi fisik yang lebih bugar, konsentrasi yang lebih baik, serta produktivitas yang meningkat.
Karena itu, jika selama ini begadang dianggap sebagai cara untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, para pakar menyarankan untuk mulai mengubah kebiasaan tersebut. Tidur yang cukup bukan sekadar waktu beristirahat, melainkan investasi penting bagi kesehatan sekaligus kunci untuk bekerja lebih efektif setiap hari
