Anak Makin Akrab dengan AI, Orangtua Perlu Tahu 3 Cara Mendampingi Remaja

Mukti Ali
4 Min Read

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dan remaja. Kondisi ini membuat orangtua perlu memahami cara mendampingi anak agar dapat memanfaatkan teknologi AI secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak bisa saja lebih dahulu mengenal berbagai fitur AI dibandingkan orangtua mereka. Karena itu, pendampingan keluarga menjadi penting agar penggunaan teknologi tidak hanya berorientasi pada kemudahan, tetapi juga mendukung proses belajar dan perkembangan anak.

Melalui Panduan Praktis AI untuk Keluarga atau PandAI, OpenAI mengajak keluarga membangun kebiasaan menggunakan AI melalui percakapan terbuka dan eksplorasi bersama.

Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents, Pritta Tyas Mangestuti, mengatakan orangtua tidak harus memahami seluruh aspek AI sebelum mulai mendampingi anak.

Menurut Pritta, hal terpenting adalah kesediaan orangtua untuk belajar bersama, mendengarkan pengalaman anak, dan membuka ruang diskusi mengenai teknologi yang mereka gunakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Pritta dalam peluncuran PandAI untuk Keluarga di Penang Bistro, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga:  13 Gejala Gangguan Kepribadian Narsistik yang Perlu Dikenali, Bukan Sekadar Suka Dipuji

3 Cara Orangtua Mendampingi Anak Menggunakan AI

Parenting Educator dan Co-Founder Good Enough Parents, Damar Wahyu Wijayanti, turut menekankan pentingnya pendekatan yang komunikatif dalam mendampingi anak mengenal teknologi AI.

Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan orangtua untuk membangun kebiasaan penggunaan AI yang sehat di lingkungan keluarga.

1. Mulai dengan Percakapan Terbuka

Langkah pertama adalah membangun komunikasi dengan anak sebelum menetapkan aturan mengenai penggunaan AI.

Orangtua perlu mengetahui sejauh mana anak memahami teknologi tersebut, bagaimana mereka menggunakannya, serta tujuan mereka ketika berinteraksi dengan chatbot atau aplikasi berbasis AI.

Percakapan sebaiknya dilakukan secara santai agar anak tidak merasa sedang diinterogasi. Dengan demikian, mereka dapat lebih terbuka dalam menceritakan pengalaman, pertanyaan, maupun kesulitan yang ditemui saat menggunakan teknologi.

Melalui komunikasi yang terbuka, orangtua juga memiliki kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman anak mengenai kemampuan dan keterbatasan AI.

2. Hindari Pendekatan yang Hanya Berisi Larangan

Dalam mendampingi anak menggunakan AI, orangtua sebaiknya tidak hanya memberikan daftar perintah mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Baca Juga:  Ini Bedanya Pemeriksaan CT-Scan Gunakan Kontras dan Tidak

Pendekatan yang terlalu menekankan larangan berpotensi membuat remaja enggan berdiskusi. Sebaliknya, melibatkan anak dalam proses pembelajaran dapat membantu mereka memahami alasan di balik aturan yang diterapkan.

Orangtua dapat menggunakan pendekatan coaching dengan memberikan arahan, mengajukan pertanyaan, dan mengajak anak mengevaluasi informasi yang diperoleh dari AI.

Dengan cara ini, anak tetap memiliki ruang untuk mengeksplorasi teknologi, sementara orangtua menjalankan peran sebagai pendamping.

3. Mulai dari Hobi dan Minat Anak

Cara lain yang dapat dilakukan adalah memulai pembicaraan tentang AI dari hal-hal yang disukai anak.

Misalnya, apabila anak menyukai permainan, musik, olahraga, atau menggambar, orangtua dapat mengajak mereka mengeksplorasi bagaimana AI dapat membantu mempelajari hal-hal tersebut.

Pritta menjelaskan bahwa ChatGPT dapat menjadi sarana untuk memperoleh informasi sekaligus memenuhi rasa ingin tahu anak.

Dengan memanfaatkan minat yang sudah dimiliki, pembicaraan mengenai AI dapat berlangsung lebih alami dan tidak terasa seperti sesi khusus yang sengaja dibuat orangtua.

Pendekatan ini juga membantu orangtua memahami apa yang sedang dicari, dipelajari, atau ingin diketahui anak ketika menggunakan AI.

Baca Juga:  Hati-Hati Bicara, 5 Kalimat Ini Sebaiknya Dihindari setelah Ibu Melahirkan

Pentingnya Pendampingan Keluarga di Era AI

Perkembangan AI menghadirkan berbagai peluang untuk mendukung pembelajaran dan eksplorasi anak. Namun, penggunaan teknologi ini juga perlu disertai pemahaman mengenai keterbatasan informasi yang dihasilkan AI serta pentingnya menjaga privasi.

Karena itu, orangtua perlu membangun kebiasaan berdiskusi dengan anak, bukan sekadar mengawasi atau membatasi penggunaan teknologi.

Melalui komunikasi terbuka, keterlibatan langsung, dan pendampingan yang sesuai dengan minat anak, keluarga dapat membantu remaja mengembangkan kebiasaan menggunakan AI secara lebih kritis dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, orangtua tidak dituntut untuk selalu memiliki semua jawaban. Kemauan untuk belajar bersama dan mendengarkan pengalaman anak menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan di kehidupan sehari-hari.

Share This Article