SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada Triwulan I 2026 mencapai 2,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah masih bergerak positif meski sektor pertambangan yang selama ini menjadi penopang utama mengalami perlambatan.
“Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur masih ditopang aktivitas perdagangan, transportasi, serta sektor akomodasi dan makan minum yang mengalami peningkatan cukup tinggi secara tahunan,” ujarnya dalam rilis resmi BPS Kaltim, Senin (11/5/2026).
Berdasarkan data BPS, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 15,94 persen.
Kemudian disusul sektor jasa lainnya yang tumbuh 15,78 persen serta perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 14,97 persen.
Menurut Mas’ud, meningkatnya sektor perdagangan dan jasa menjadi sinyal aktivitas ekonomi masyarakat masih cukup terjaga pada awal tahun 2026.
“Kami melihat ada pergerakan positif dari sektor-sektor jasa dan konsumsi masyarakat. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan,” katanya.
Namun demikian, sektor pertambangan dan penggalian yang masih mendominasi struktur ekonomi Kaltim justru mengalami kontraksi sebesar 1,19 persen secara tahunan.
Selain itu, sektor jasa keuangan dan asuransi juga mengalami penurunan sebesar 3,05 persen.
“Pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi Kaltim, tetapi pada triwulan ini mengalami kontraksi. Karena porsinya besar, tentu sangat mempengaruhi pertumbuhan daerah,” tutur Mas’ud.
BPS mencatat struktur ekonomi Kaltim masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi mencapai 33,45 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Setelah itu disusul industri pengolahan sebesar 19,39 persen dan sektor konstruksi sebesar 11,65 persen.
Secara nominal, nilai PDRB Kaltim atas dasar harga berlaku pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp229,08 triliun.
Sementara PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010 berada di angka Rp149,02 triliun.
Jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2025 atau quarter to quarter (q-to-q), ekonomi Kaltim tercatat mengalami kontraksi sebesar 3,69 persen.
Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya sektor pertambangan, industri pengolahan, hingga administrasi pemerintahan.
Meski begitu, Kalimantan Timur masih menjadi kontributor terbesar perekonomian regional di Pulau Kalimantan dengan sumbangan mencapai 46,48 persen terhadap total ekonomi wilayah Kalimantan.
