Hati-Hati Bicara, 5 Kalimat Ini Sebaiknya Dihindari setelah Ibu Melahirkan

Mukti Ali
5 Min Read

RADARKALTIM.CO – Masa setelah melahirkan merupakan periode yang penuh perubahan bagi seorang ibu. Selain harus beradaptasi dengan kehadiran bayi, ibu juga perlu menghadapi kurang tidur, perubahan hormon, proses pemulihan tubuh, hingga tekanan untuk menjalani peran sebagai orangtua.

Dalam kondisi tersebut, dukungan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan. Namun, niat baik untuk menghibur terkadang justru dapat membuat ibu merasa tidak dipahami jika disampaikan dengan kalimat yang kurang tepat.

Psikiater reproduksi dan pendiri Mavida Health, Dr. Sarah Oreck, mengatakan kesehatan mental setelah melahirkan perlu mendapat perhatian yang sama seperti kondisi kesehatan lainnya.

“Kesehatan mental perinatal harus diperlakukan persis sama,” katanya, dikutip dari HuffPost.

Tidak semua ibu mampu atau mau mengungkapkan secara terbuka ketika sedang mengalami kesulitan. Karena itu, orang-orang di sekitar ibu perlu lebih berhati-hati dalam memberikan komentar maupun nasihat.

1. “Tidurlah saat bayi tidur”

Kalimat “tidurlah saat bayi tidur” mungkin terdengar seperti saran sederhana agar ibu memiliki waktu untuk beristirahat.

Namun, bagi ibu yang baru melahirkan, kondisi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Menurut terapis pernikahan dan keluarga Chelsea Solorzano, kalimat itu dapat memberikan kesan bahwa ibu seharusnya mampu mengatur waktu tidurnya dengan mudah.

Baca Juga:  9 Tips Puasa Anti Haus, Hindari Minum Ini Biar Kuat sampai Maghrib

Alih-alih memberikan nasihat, orang terdekat sebaiknya menawarkan bantuan secara langsung. Misalnya, membantu menjaga bayi agar ibu memiliki kesempatan untuk tidur atau beristirahat sejenak.

2. “Baru segini, nanti masih ada fase yang lebih capek”

Ibu baru mungkin sudah sering mendengar bahwa akan ada fase pengasuhan yang lebih melelahkan. Misalnya, ketika bayi mengalami perubahan pola tidur atau mulai tumbuh gigi.

Menurut Kimberly Meehan, pemilik praktik pribadi di New York City, pembicaraan sebaiknya tidak selalu diarahkan pada kesulitan yang akan datang.

Daripada mengatakan bahwa keadaan akan menjadi lebih berat, orang terdekat dapat mengingatkan ibu tentang berbagai momen menyenangkan yang bisa dinantikan, seperti ketika bayi mulai tersenyum, menggenggam tangan, atau mengucapkan kata pertamanya.

3. “Nikmati saja setiap momen”

Menjadi orangtua memang menghadirkan banyak momen berharga. Namun, bukan berarti seorang ibu harus selalu merasa bahagia dan menikmati setiap detik setelah melahirkan.

Oreck menjelaskan, kalimat tersebut berpotensi membuat ibu merasa harus selalu bersyukur meskipun sedang kurang tidur, mengalami perubahan hormon, atau masih menjalani proses pemulihan setelah persalinan maupun operasi.

Baca Juga:  Sering Memendam Emosi Bisa Picu Penyakit? Ini Penjelasan Psikiater

Sebagai gantinya, orang terdekat dapat mengakui bahwa pengalaman menjadi ibu bisa terasa menyenangkan sekaligus sulit.

Memberikan apresiasi juga dapat menjadi bentuk dukungan sederhana. Kalimat seperti “kamu sudah melakukan pekerjaan dengan baik” dapat membuat ibu merasa usaha yang dilakukannya selama merawat bayi dihargai.

4. “Setidaknya bayinya sehat”

Bayi yang sehat tentu menjadi hal yang patut disyukuri. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghapus berbagai pengalaman sulit yang mungkin dialami ibu.

Pengalaman persalinan yang traumatis, kecemasan, depresi pascapersalinan, perawatan bayi di NICU, rasa sakit, kesedihan, hingga perasaan kehilangan jati diri tetap perlu diperhatikan.

Karena itu, kondisi bayi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan keluhan atau perasaan yang dialami ibu.

5. “Kapan menambah saudara kandung atau adik?”

Pertanyaan mengenai kapan memiliki anak kedua mungkin terdengar seperti basa-basi. Namun, bagi sebagian ibu, pertanyaan tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Terlebih jika kehamilan dan persalinan sebelumnya berlangsung sulit atau meninggalkan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Oreck mengingatkan bahwa orang lain tidak mengetahui apa saja yang dibutuhkan pasangan untuk memiliki anak kembali, apa yang baru saja dialami tubuh ibu, maupun apakah pasangan tersebut sudah memiliki rencana untuk menambah anak.

Baca Juga:  4 Inspirasi Menu Sahur yang Praktis, Sehat, dan Mengenyangkan

Karena itu, pertanyaan mengenai anak kedua sebaiknya dihindari. Sebagai gantinya, orang terdekat dapat menanyakan kondisi ibu dan keluarganya setelah kehadiran bayi.

Dukungan untuk Ibu Tak Harus Berupa Nasihat

Setelah melahirkan, terkadang seorang ibu tidak membutuhkan nasihat, melainkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

Perhatian terhadap ibu juga sebaiknya tidak berhenti setelah beberapa minggu pertama kelahiran bayi. Orang terdekat dapat kembali menanyakan kabarnya setelah beberapa waktu dan memastikan bahwa ia tahu dirinya tidak harus menghadapi semua perubahan tersebut sendirian.

Pada akhirnya, dukungan terbaik bagi ibu pasca-melahirkan bukan selalu berupa nasihat. Kehadiran, bantuan nyata, apresiasi, dan kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi bentuk dukungan yang jauh lebih berarti.

Share This Article