SAMARINDA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan peningkatan di tengah kemarau berkepanjangan dan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pada pekan ke-32 atau Agustus 2026, tercatat 9.445 kasus ISPA di Kaltim. Dinas Kesehatan Kaltim menyebut peningkatan tersebut berkaitan dengan paparan asap karhutla yang diperparah kondisi cuaca kering tanpa hujan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan tren kasus ISPA terus meningkat jika dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun yang berada di angka 8.843 kasus.
Menurutnya, tidak adanya hujan dan munculnya titik api secara sporadis di sejumlah wilayah Kaltim membuat kualitas udara semakin terpengaruh. Kondisi tersebut diperparah asap kiriman dari sejumlah provinsi lain.
“Kenaikan dipicu oleh titik api, termasuk asap kiriman dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, ditambah lagi Kaltim sendiri sampai sejauh ini belum diguyur hujan,” kata Jaya di kantornya, Jalan Abdul Wahab Syahranie, Samarinda, Rabu (2/9/2026).
Jaya menjelaskan, peningkatan kasus ISPA sebenarnya sempat mengalami penurunan pada akhir Juni hingga awal Juli 2026. Saat itu, jumlah kasus berada di angka 6.996 kasus.
Namun, memasuki periode kemarau, titik api kembali bermunculan di sejumlah daerah. Paparan asap yang terjadi kemudian turut mendorong angka kasus ISPA kembali meningkat secara signifikan.
Secara kumulatif selama periode Januari hingga 22 Agustus 2026, Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Kaltim, yakni mencapai 66.468 kasus.
Samarinda berada di posisi kedua dengan 48.230 kasus, disusul Kutai Kartanegara sebanyak 29.453 kasus.
Selanjutnya, Paser mencatat 22.284 kasus, Kutai Timur 22.032 kasus, Berau 20.549 kasus, Penajam Paser Utara 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, Kutai Barat 7.562 kasus, dan Mahakam Ulu 1.482 kasus.
Meski jumlah kasus tertinggi berada di Balikpapan, Dinkes Kaltim menyebut ancaman kualitas udara paling serius berada di Kutai Barat.
Kondisi tersebut dipengaruhi kebakaran lahan yang mencapai sekitar 269,7 hektare. Dampaknya, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut mengalami peningkatan tajam.
“ISPU di Kutai Barat mencapai 318 mikrogram per meter kubik. Angka ini masuk tingkat berbahaya karena standar normalnya di bawah 55 mikrogram,” jelas Jaya.
Mengantisipasi dampak buruk asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat, Pemerintah Provinsi Kaltim menyiapkan 15.000 boks masker untuk dibagikan ke sejumlah daerah terdampak.
Setiap kabupaten dan kota dialokasikan sebanyak 10.000 lembar masker. Pada tahap awal, distribusi diprioritaskan ke lima wilayah yang tercatat memiliki tingkat ISPU tinggi, yakni Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Barat, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Dinkes Kaltim juga menyiapkan langkah antisipasi apabila stok masker di daerah mulai menipis. Pasokan tambahan akan diajukan langsung kepada Kementerian Kesehatan.
Selain ISPA, masyarakat diminta mewaspadai penyakit lain yang berpotensi meningkat selama kemarau, khususnya diare dan gangguan kulit seperti gatal-gatal yang berkaitan dengan keterbatasan air bersih.
Jaya menegaskan kondisi Kaltim saat ini memang perlu mendapat perhatian, tetapi belum masuk kategori risiko sangat tinggi. Hal tersebut karena titik api yang muncul masih bersifat sporadis dan belum terjadi secara masif di seluruh wilayah.
“Jadi Kaltim ini masuk provinsi yang hanya risiko tinggi tapi bukan kategori sangat tinggi, karena titik-titik apinya juga banyak, cuma sporadis tidak masif,” pungkasnya.
