SAMARINDA – Kekeringan berkepanjangan mulai menguji ketahanan pangan Kalimantan Timur. Produksi padi lokal terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air, sehingga kebutuhan beras di Bumi Etam kini turut ditopang pasokan dari luar daerah.
Perum Bulog Kanwil Kaltim-Kaltara menyebut beras dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur didatangkan untuk memperkuat stok Kaltim. Sekitar 16 ribu ton beras diproyeksikan masuk hingga akhir 2026 melalui mekanisme pemerataan stok Bulog nasional. Sementara itu, stok beras Bulog yang tersedia di Kaltim berada di kisaran 10.000 ton.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti stok beras Kaltim sedang kosong. Bulog Kaltimtara pada 25 September memastikan stok sekitar 15.000 ton masih aman untuk mendukung ketahanan pangan hingga akhir tahun, termasuk untuk bantuan pangan dan program stabilisasi harga beras.
Persoalan utama justru berada pada produksi lokal. Hingga pertengahan September, sekitar 2.620 hektare lahan pertanian Kaltim terdampak kekeringan, dengan 670 hektare masuk kategori terdampak berat dan 333 hektare mengalami puso. Kukar menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena merupakan sentra produksi pertanian Kaltim, disusul Paser dan PPU.
Pemerintah telah mengoptimalkan 333 unit pompa air untuk membantu menyelamatkan lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Petani juga didorong menggunakan varietas padi berumur genjah dan lebih tahan terhadap kondisi kering.
