SMPN 8 Bontang Kekurangan Ruang Kelas, DPRD Dorong Revitalisasi Lewat APBN

Redaksi Radarkaltim
3 Min Read

BONTANG – Keterbatasan fasilitas masih menjadi persoalan yang dihadapi SMP Negeri 8 Bontang Selatan. Sekolah yang menampung 468 siswa tersebut hanya memiliki delapan ruang kelas untuk 13 rombongan belajar (rombel).

Kondisi itu membuat pihak sekolah harus memanfaatkan sejumlah ruangan yang semestinya memiliki fungsi lain untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan, ruang perpustakaan saat ini digunakan sebagai ruang guru karena sekolah belum memiliki fasilitas tersebut.

Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto, mendorong agar kekurangan fasilitas SMPN 8 dapat diusulkan melalui program revitalisasi sekolah yang bersumber dari APBN. Ia bahkan berencana membawa persoalan tersebut ke kementerian terkait untuk mendapatkan dukungan pemerintah pusat.

“Kalau untuk kelas sama kantor guru kita minta upayakan itu lewat APBN, program revitalisasi,” ujar Heri.

Menurut Heri, peluang tersebut perlu dimanfaatkan dengan memastikan seluruh kekurangan sarana dan prasarana sekolah tercatat sesuai kondisi sebenarnya dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Ia meminta pihak sekolah tidak menampilkan kondisi seolah-olah seluruh fasilitas telah terpenuhi. Data yang akurat dinilai penting agar kebutuhan sekolah dapat menjadi dasar pengusulan ketika DPRD melakukan komunikasi dengan kementerian.

Baca Juga:  Distribusi Air di Loktuan dan KM 3 Dihentikan Sementara,5 Ribu Pelanggan PDAM Bontang Terdampa

“Jadi itu yang kita minta tadi sama pihak sekolah sampaikan saja kekurangan-kekurangan, sehingga saat kita datang kunjungan ke kementerian kita langsung follow up,” terangnya.

Kepala SMPN 8 Bontang Selatan, Eko Yuli Atmanto, mengatakan keterbatasan ruang memang menjadi kendala utama sekolah. Selain hanya memiliki delapan ruang kelas untuk 13 rombel, sekolah yang berdiri sejak 2007 itu juga belum memiliki ruang guru.

“Ruang kelas kami hanya delapan, rombel kami 13. Dari sisi fisik memang banyak kekurangan. Sekolah ini berdiri 2007, sampai sekarang ruang guru belum ada, sehingga kami menumpang di perpustakaan,” tuturnya.

Keterbatasan tersebut turut berdampak pada penerimaan siswa baru. Jika sebelumnya sekolah masih mampu menerima lima kelas, pada penerimaan terbaru jumlahnya harus dikurangi menjadi empat kelas karena keterbatasan ruang.

Eko menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk mengusulkan sejumlah kebutuhan sarana dan prasarana. Bahkan, keterbatasan ruang membuat sekolah terpaksa memanfaatkan ruangan yang bukan diperuntukkan sebagai kelas.

“Ruang toilet kami jadikan kelas ada di ruang atas karena kekurangan itu. Kami sudah koordinasi dengan dinas pendidikan untuk bisa mengusulkan beberapa item yang kekurangan,” pungkasnya.

Share This Article