Anak Suka Berkata Kasar? Ini Langkah yang Bisa Dilakukan Orangtua

Mukti Ali
5 Min Read

RADARKALTIM – Kebiasaan anak mengucapkan kata-kata kasar kerap membuat orangtua khawatir. Terlebih, anak dapat meniru berbagai ucapan yang mereka dengar dari rumah, televisi, internet, maupun lingkungan pertemanan.

Kebiasaan berkata kasar pada anak sebenarnya tidak selalu mudah dicegah. Seiring bertambahnya usia dan luasnya pergaulan, anak semakin banyak berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga yang turut memengaruhi cara mereka berbicara.

Survei C.S. Mott Children’s Hospital National Poll terhadap orangtua yang memiliki anak berusia 6-17 tahun menunjukkan, 47 persen orangtua menilai anak tidak seharusnya menggunakan kata-kata kasar dalam kondisi apa pun.

Sementara itu, 35 persen orangtua lainnya berpendapat bahwa penggunaan kata kasar perlu dilihat berdasarkan situasi dan konteksnya.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata kasar cenderung meningkat ketika anak memasuki usia remaja. Sebanyak 37 persen orangtua mengatakan anak mereka setidaknya sesekali mengucapkan kata-kata kasar.

Alasan anak berkata kasar pun beragam. Anak bisa melakukannya karena meniru kebiasaan orang di sekitarnya, ingin menyesuaikan diri dengan teman, sekadar bercanda, mencari perhatian, atau terpengaruh lingkungan.

Baca Juga:  Olive Skin: Kenali Ciri, Undertone, dan Warna yang Cocok

Karena itu, menghadapi anak yang suka berkata kasar tidak cukup hanya dengan melarangnya. Orangtua juga perlu memperhatikan lingkungan bahasa yang didengar anak setiap hari sekaligus memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.

Anak Belajar dari Kebiasaan di Rumah

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar. Psikolog Tyanna Snider mengatakan, orangtua perlu memperhatikan bukan hanya perkataan mereka sendiri, tetapi juga kata-kata yang didengar anak melalui televisi, internet, maupun teman.

Terapis Anne Josephson, PsyD, MSEd, juga menekankan pentingnya orangtua menjadi teladan bagi anak dalam menggunakan bahasa.

Menurut Josephson, anak perlu memahami bahwa ada waktu dan tempat tertentu untuk menggunakan kata-kata kasar. Dengan demikian, anak dapat belajar bahwa sebuah kata yang terdengar di lingkungan tertentu belum tentu pantas digunakan dalam semua situasi.

Pendekatan tersebut membantu anak memahami penggunaan bahasa berdasarkan konteks, bukan sekadar mematuhi larangan karena takut mendapat hukuman.

Jangan Hanya Melarang, Jelaskan Dampaknya

Ketika anak mengucapkan kata kasar, orangtua tidak selalu harus langsung memberikan hukuman. Orangtua dapat meminta anak berhenti, menjelaskan mengapa ucapan tersebut kurang baik, mengabaikannya jika situasinya memungkinkan, atau memberikan konsekuensi yang sesuai.

Baca Juga:  Pasangan Lebih Sukses Bikin Minder? Ini Cara Mengubah Perbandingan Jadi Motivasi

Hal yang tidak kalah penting adalah membantu anak memahami dampak perkataan terhadap orang lain.

Psikolog Tyanna Snider menyarankan orangtua menjelaskan bahwa kata-kata tertentu dapat menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Penjelasan tersebut membuat anak memahami alasan di balik aturan yang diberikan orangtua.

Psikolog Deborah Vinall, PsyD, LMFT, juga mengingatkan pentingnya melihat konteks ketika membicarakan penggunaan kata kasar. Menurutnya, kata-kata tersebut tidak semestinya digunakan untuk menyerang, merendahkan, atau merujuk kepada seseorang.

Dengan pendekatan ini, tujuan orangtua bukan sekadar membuat anak takut mengucapkan kata kasar. Lebih dari itu, anak diharapkan memahami kapan sebuah ucapan dianggap tidak sopan, tidak pantas, atau berpotensi menyakiti orang lain.

Orangtua Perlu Mengakui Kesalahan

Orangtua juga tidak selalu dapat menjaga setiap perkataan. Dalam situasi tertentu, orangtua mungkin tanpa sengaja mengucapkan kata kasar di depan anak.

Jika hal tersebut terjadi, Anne Josephson menyarankan orangtua untuk mengakui kesalahan dan menunjukkan penyesalan.

Orangtua dapat mengatakan kepada anak bahwa mereka menyesal telah mengucapkan kata tersebut. Langkah sederhana ini sekaligus menjadi contoh bahwa setiap orang, termasuk orang dewasa, perlu bertanggung jawab atas perkataannya.

Baca Juga:  BLT Kesra Rp900.000 2026, Ini Kelompok yang Berpeluang Menerima Bantuan

Momen tersebut juga dapat digunakan untuk mengajarkan anak mengenai cara memperbaiki kesalahan dalam berkomunikasi.

Manfaatkan Momen Sehari-hari untuk Mengajarkan Anak

Orangtua dapat memanfaatkan berbagai situasi sehari-hari sebagai kesempatan untuk mengajarkan penggunaan bahasa yang tepat.

Misalnya, ketika anak mendengar kata kasar dari film, media sosial, tempat umum, atau teman, orangtua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai arti kata tersebut dan alasan mengapa kata itu tidak tepat digunakan dalam situasi tertentu.

Pendekatan dialogis dapat membantu anak memahami aturan bahasa secara lebih baik dibandingkan sekadar menerima larangan.

Pada akhirnya, mencegah anak memiliki kebiasaan berkata kasar bukan berarti menuntut mereka selalu sempurna. Anak tetap dapat melakukan kesalahan dalam berbicara selama proses belajar.

Yang terpenting, orangtua perlu menjadi teladan dalam menggunakan bahasa, menjelaskan konteks sebuah ucapan, serta membantu anak memahami dampak perkataan terhadap orang lain.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak diharapkan tidak hanya mampu mengurangi kebiasaan berkata kasar, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan lebih sopan dan bertanggung jawab.

Share This Article