JAKARTA – Dalam kondisi kegawatdaruratan medis, setiap detik menjadi penentu antara hidup dan mati. Karena itu, rumah sakit menerapkan sistem Code Blue, sebuah prosedur darurat yang dirancang untuk memastikan pasien dengan kondisi kritis, seperti henti jantung atau henti napas, segera mendapatkan penanganan medis yang cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Code Blue merupakan sistem aktivasi kegawatdaruratan internal rumah sakit yang langsung mengerahkan tim medis khusus ketika ada pasien mengalami kondisi yang mengancam jiwa. Melalui sistem ini, dokter, perawat, tenaga anestesi, hingga tenaga kesehatan lain yang telah memiliki kompetensi Basic Life Support (BLS) dan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) akan bergerak secara bersamaan untuk memberikan pertolongan.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Tangerang, dr Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K), FIHA, menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan pasien dalam kondisi kritis sangat ditentukan oleh kecepatan respons, ketepatan tindakan, serta koordinasi seluruh tim medis.
Menurutnya, pada kasus henti jantung, aliran darah yang membawa oksigen ke otak dan organ vital lainnya akan berhenti secara mendadak. Jika tidak segera ditangani, peluang pasien untuk bertahan hidup akan menurun secara signifikan dari menit ke menit.
“Pada kondisi henti jantung, aliran darah yang membawa oksigen ke otak dan organ vital lainnya terhenti. Tanpa intervensi segera, peluang pasien untuk bertahan hidup dapat menurun secara signifikan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, tim Code Blue memiliki prosedur penanganan yang terstruktur sesuai standar internasional. Berbagai tindakan dapat dilakukan, mulai dari resusitasi jantung paru (CPR), pemberian bantuan napas, penggunaan defibrilator untuk mengembalikan irama jantung apabila diperlukan, hingga pemberian obat-obatan dan tindakan medis lanjutan sesuai kondisi pasien.
Seluruh proses tersebut harus dilakukan secara cepat dengan pembagian tugas yang jelas agar pasien memperoleh kesempatan terbaik untuk selamat. Oleh karena itu, koordinasi antartenaga medis menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan penanganan kondisi gawat darurat.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Surabaya, dr Rerdin Julario, SpJP(K), mengatakan bahwa keberhasilan sistem Code Blue tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas medis, tetapi juga kesiapan sistem rumah sakit secara menyeluruh.
Menurutnya, rumah sakit harus memiliki protokol kegawatdaruratan yang jelas, tenaga medis yang terlatih, peralatan resusitasi yang selalu siap digunakan, serta pelatihan dan simulasi secara rutin agar seluruh tim mampu bekerja efektif saat menghadapi situasi darurat.
“Dengan begitu, setiap tim medis dapat mengambil keputusan dan memberikan tindakan secara cepat, tepat, sesuai standar internasional,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh tahapan resusitasi pada pasien henti jantung harus dilakukan sesuai prosedur agar sirkulasi darah dan pasokan oksigen menuju organ-organ vital dapat dipulihkan secepat mungkin.
Kesiapan tim medis menghadapi kondisi darurat tidak hanya dibangun melalui pengalaman di lapangan, tetapi juga melalui pelatihan dan simulasi yang dilakukan secara berkala. Latihan tersebut bertujuan menjaga kemampuan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan secara cepat sekaligus meningkatkan koordinasi antaranggota tim saat menghadapi pasien kritis.
Penerapan sistem Code Blue yang konsisten menjadi salah satu indikator kesiapan sebuah rumah sakit dalam memberikan layanan kegawatdaruratan yang berkualitas. Dengan sistem yang berjalan baik, waktu respons terhadap pasien dapat dipersingkat sehingga peluang keselamatan pasien menjadi lebih tinggi.
Sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan kegawatdaruratan, Mayapada Hospital telah menerapkan sistem Code Blue di seluruh unit pelayanannya. Upaya tersebut turut mengantarkan Mayapada Hospital Surabaya meraih Juara Utama Kompetisi Code Blue dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) tingkat Jawa Timur 2026.
Prestasi tersebut menjadi bukti kesiapan rumah sakit dalam menjaga kecepatan respons, ketepatan tindakan klinis, serta koordinasi tim ketika menghadapi pasien dalam kondisi kritis.
Selain itu, Mayapada Hospital juga menyediakan layanan Emergency 24/7 yang didukung dokter spesialis dan subspesialis yang bersiaga di rumah sakit, termasuk dokter spesialis anestesi yang siap memberikan penanganan bagi pasien yang membutuhkan tindakan operasi darurat.
Layanan tersebut tersedia di seluruh jaringan Mayapada Hospital yang berada di Jakarta, Tangerang, Bogor, Surabaya, Bandung, hingga Nusantara. Masyarakat juga dapat mengakses layanan darurat melalui emergency call 150990 maupun aplikasi MyCare, yang turut menyediakan berbagai informasi kesehatan dan fitur pemantauan kondisi tubuh secara digital.
Dengan penerapan sistem Code Blue yang terstandarisasi, rumah sakit diharapkan mampu memberikan respons medis yang lebih cepat dan efektif sehingga dapat meningkatkan angka keselamatan pasien, khususnya pada kasus-kasus kegawatdaruratan seperti henti jantung dan henti napas.
