PGRI Bontang Kebut Digitalisasi Pendidikan, Guru Dilatih Kuasai Teknologi

Redaksi Wy
2 Min Read

BONTANG – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bontang mulai mempercepat program digitalisasi pendidikan dengan menggelar bimbingan teknis bagi guru berbasis teknologi digital.

Program tersebut menjadi langkah awal PGRI Bontang dalam mendukung transformasi pendidikan modern sekaligus meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi saat proses belajar mengajar.

Ketua PGRI Kota Bontang, Saparudin mengatakan, saat ini dua sekolah telah menjadi sasaran awal pelaksanaan pelatihan digitalisasi pendidikan bagi para tenaga pendidik.

Menurutnya, program itu merupakan tindak lanjut dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menargetkan satu juta guru di Indonesia memahami pemanfaatan teknologi digital dalam dunia pendidikan.

“Program kementerian satu juta guru wajib digitalisasi, paham dengan digital. Bontang ingin jadi yang pertama selesai memahami teknologi dalam pengajaran,” ungkapnya, Selasa (12/5/2026).

Saparudin menjelaskan, perkembangan teknologi saat ini sangat membantu guru dalam menyiapkan bahan ajar, termasuk menyusun soal pembelajaran secara lebih cepat dan efisien.

Jika sebelumnya guru membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk membuat soal, kini proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit dengan bantuan teknologi digital.

Baca Juga:  Masih Ada Harapan Bagi Honorer yang Diputus Kontrak, Wawali Agus Haris: Kami Pelajari Skema PJLP

“Dulu kita berminggu-minggu dan berhari-hari, saat ini cukup 20 menit sudah jadi soal dengan memanfaatkan teknologi,” jelasnya.

Menurutnya, penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan bukan hanya mempermudah pekerjaan guru, tetapi juga meningkatkan efektivitas proses pembelajaran di sekolah.

PGRI Bontang pun menargetkan program pelatihan digitalisasi pendidikan dapat diperluas ke seluruh sekolah di Kota Bontang secara bertahap.

Langkah tersebut sejalan dengan hasil rapat kerja nasional PGRI yang mendorong percepatan pelatihan guru berbasis digital di berbagai daerah di Indonesia.

Meski demikian, Saparudin mengakui pelaksanaan program masih menghadapi keterbatasan anggaran. Karena itu, pihaknya berharap adanya kolaborasi dan dukungan berbagai pihak agar pelatihan digitalisasi bagi guru dapat berjalan maksimal.

“Kalau bisa seluruh guru sudah bisa memanfaatkan teknologi. Tapi kita lihat kondisi keuangan pemerintah terbatas, jadi dengan segala keterbatasan kita cobalah untuk berkolaborasi,” pungkasnya.

Share This Article