BONTANG – Proyek besar Waduk Kanaan Bontang senilai Rp267,6 miliar resmi dibatalkan pada 2026. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengakui tidak memiliki anggaran untuk menjalankan proyek multiyears contract (MYC) tersebut.
Keputusan pembatalan proyek ini disampaikan langsung Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, dalam Musrenbang Tingkat Kota 2027, Selasa (7/4/2026).
“Dengan berat hati proyek multiyears kami batalkan tahun ini. Risikonya besar. Kami tidak ada anggaran,” ujarnya.
Menurut Neni, Pemkot Bontang tidak ingin memaksakan proyek berjalan di tengah keterbatasan fiskal, apalagi jika harus menanggung utang kepada kontraktor. Saat ini, sejumlah program pembangunan juga terpaksa ditunda karena membebani APBD.
Pembatalan proyek MYC Waduk Kanaan disebut sebagai langkah realistis di tengah tekanan keuangan daerah. Pemkot memilih menunda proyek daripada mengambil risiko finansial yang lebih besar.
Kebijakan ini juga akan segera dilaporkan kepada DPRD Bontang, mengingat proyek tersebut sebelumnya telah disepakati dalam forum resmi perencanaan pembangunan.
“Kami akan laporkan ke DPRD segera. Semoga tekanan pendapatan daerah bisa normal lagi agar proyek bisa berjalan,” tambahnya.
Pembatalan proyek Waduk Kanaan dipastikan berdampak pada program pengendalian banjir di Kota Bontang. Waduk ini sebelumnya dirancang sebagai salah satu solusi utama untuk mengurangi risiko banjir di kawasan rawan.
Sebelumnya, proyek revitalisasi Waduk Kanaan direncanakan mulai berjalan pada 2026 melalui skema multiyears contract (MYC).
Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) Inaproc, nilai proyek mencapai Rp267,6 miliar dengan durasi pekerjaan selama lima tahun, hingga 2031.
Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air Dinas PUPRK Bontang, Edi Suprapto, menjelaskan bahwa meski kontrak berlangsung lima tahun, skema pembayaran dirancang selama tiga tahun menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.
“Kontraknya lima tahun, tetapi pembayaran dilakukan tiga tahun. Nanti akan ditender terbuka,” jelasnya.
Pembatalan proyek Waduk Kanaan Bontang menjadi sinyal kuat adanya tekanan anggaran daerah, sekaligus berdampak pada rencana jangka panjang, termasuk penanganan banjir dan pembangunan infrastruktur di kota tersebut.
