BONTANG – Sebanyak 25 ribu pelanggan Perumdam Tirta Taman Bontang kini terdampak distribusi air bersih secara bergiliran. Kebijakan tersebut diterapkan akibat pasokan air bawah tanah yang terus menyusut di tengah kondisi kemarau.
Direktur Perumdam Tirta Taman, Suramin, mengatakan sistem distribusi bergilir saat ini diterapkan pada dua Water Treatment Plant (WTP), yakni WTP Altra dan WTP di Kecamatan Bontang Barat.
Menurutnya, debit air sebagai bahan baku produksi mengalami penurunan cukup signifikan hingga sekitar 50 persen.
“Sementara dua WTP ini, Bang. Ini karena kemarau. Air produksi bawah tanah jadi terbatas. Penurunannya 50 persen. Banyak sekali,” ujar Suramin.
Suramin menyebut sistem distribusi bergilir tidak menutup kemungkinan diperluas ke wilayah lainnya apabila kondisi cuaca belum berubah.
Hingga Jumat (21/8/2026), hujan disebut belum turun secara signifikan. Kondisi tersebut membuat Perumdam harus melakukan pembatasan distribusi sekaligus efisiensi produksi.
Selain keterbatasan bahan baku, biaya pengolahan air bawah tanah juga semakin tinggi. Air yang tersedia harus kembali melalui proses pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
“Biaya produksi mahal. Kan air itu diolah lagi. Nah, bahan baku juga naik. Makanya kami ambil sistem pembatasan. Semoga saja hujan turun kembali,” katanya.
Gangguan pasokan air bersih di Bontang dalam sepekan terakhir juga dipengaruhi pemadaman listrik secara berkala.
Suramin menjelaskan, ketika listrik padam, mesin pendorong air tidak dapat beroperasi sehingga distribusi kepada pelanggan ikut terdampak.
“Kalau listrik padam, ya distribusi air juga mengikuti, Mas. Kami minta maaf atas ketidaknyamanannya,” pungkasnya.
