15 Buaya Muara di Palaran Samarinda Direlokasi Setelah Pemilik Konservasi Meninggal Dunia

Redaksi Wy
2 Min Read

SAMARINDA – Sebanyak 15 ekor buaya muara yang sebelumnya berada di lokasi konservasi milik PT Samarinda Golden Prima di Jalan Kebun Agung RT 12, Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda, telah direlokasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Relokasi dilakukan setelah penanggung jawab lembaga konservasi, Alm. Hery Susanto alias Abun, meninggal dunia. Pemindahan dilakukan untuk mencegah buaya terlantar sekaligus mengurangi potensi risiko terhadap masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Kuasa hukum PT Samarinda Golden Prima, Aristo Gunawan, mengatakan seluruh buaya telah dipindahkan ke Penangkaran Buaya Teritip, Balikpapan.

Menurutnya, beberapa buaya yang direlokasi memiliki ukuran cukup besar. Salah satunya bahkan memiliki panjang sekitar empat meter.

Proses evakuasi buaya dilakukan dalam beberapa tahap. BKSDA Kaltim melaksanakan evakuasi tahap pertama pada 24-29 Agustus 2026.

Setelah proses pemindahan, petugas kembali melakukan pemantauan dan penyisiran pada 8-13 September 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada buaya yang masih tertinggal di lokasi konservasi.

Baca Juga:  Karhutla Kaltim Makin Disorot, 4 Perusahaan Disegel dan Terancam Sanksi Berat

Dari hasil penyisiran, petugas tidak menemukan keberadaan buaya lainnya.

Kolam yang sebelumnya menjadi lokasi pemeliharaan buaya kemudian dikuras. Kondisi kawasan tersebut kini disebut sudah kosong dan kering.

“Teman-teman media sudah hadir di tempat ini dan melihat secara langsung bahwa faktanya kosong. Lokasinya juga sudah kering,” kata Aristo saat meninjau lokasi, Jumat (2/10/2026).

Aristo juga menegaskan, apabila di kemudian hari ditemukan buaya liar di sekitar wilayah Palaran atau Simpang Pasir, keberadaan satwa tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan bekas lokasi konservasi.

Menurutnya, seluruh buaya yang sebelumnya berada di lokasi tersebut telah direlokasi dan kawasan konservasi telah dipastikan kosong melalui proses penyisiran.

“Apabila di kemudian hari ada buaya-buaya yang masuk ke wilayah masyarakat, kami bisa pastikan bahwa itu bukan buaya dari lokasi konservasi,” tegasnya.

Untuk memastikan kondisi tersebut diketahui publik, pihak pengelola mengundang sejumlah awak media melihat langsung lokasi bekas konservasi setelah seluruh proses relokasi dan penyisiran selesai.

Kini, kolam yang sebelumnya menjadi tempat keberadaan belasan buaya muara tersebut dalam kondisi kosong dan kering.

Share This Article